cpx

Senin, 30 Maret 2015

Sex pertama

Cerita panas, Aku seorang cowok, ini adalah cerita dewasa ketika aku ngentot pertma kali dengan kekasihku, terasa aneh dan enaaaak banget. Inilah cerita panas tersebut, Namaku Agung dan pacarku bernama Ririn. Kami satu sekolah di Jakarta dan kami resmi menjadi pacar di kelas 3 setelah sekitar setahun sering pulang bareng karena rumah kami searah. Ririn sendiri adalah seorang gadis yang bertubuh mungil, tingginya mungkin tidak lebih dari 155 cm dan bertubuh kurus, namun memiliki ukuran payudara yang besar, mungkin seukuran dengan payudara Febby Febiola. Sampai-sampai teman-temanku sering berkata kalau nafsu seksnya pun pasti besar. Tapi bukan itu yang jadi penyebab aku mencintainya, sikap manja dan tawanya yang lepas membuatku senang bersama dan bercanda dengannya.Hubungan pacaran kami layaknya gaya pacaran remaja era 90-an, tidak lebih dari nonton bioskop atau makan di restoran cepat saji. Tapi memang setelah pulang sekolah aku sering mampir ke rumahnya untuk ngobrol atau mengerjakan tugas bareng. Biasanya ada ibunya dan adik laki-lakinya yang masih smp. inilah cerita dewasa panas yang aku alami. Sehari menjelang acara liburan perpisahan sekolah kami, seperti biasa aku mengantarnya pulang dan mampir ke rumahnya. Ternyata hari itu ibunya sedang ke Kota Malang bersama adiknya untuk menjenguk kakaknya yang kuliah dan sedang sakit di sana. Sedangkan bapaknya memang biasa pulang malam. Jadilah kami hanya berdua di rumah tersebut. “Mau nonton CD ga? Aku punya CD baru ni,” katanya seperti biasa dengan ceria. “Boleh,” sahutku. “Bentar ya, aku mo ganti baju dulu, bau,” katanya sambil beranjak ke kamarnya. Aku pun memasukkan keping CD ke dalam CD playernya sambil menunggunya ganti baju. Tidak lama dia pun kembali ke ruang tengah dengan celana pendek sekitar 20 cm di atas lutut dan kaos ketat. Kami pun menonton film dengan duduk bersebelahan di sofanya. Film yang kami tonton adalah film Armageddon. Kugenggang tangannya dan menariknya menempelkan bahunya dengan bahuku, dia pun merapat dan lenganku pun kini berada di atas payudaranya yang kenyal. Dia sudah terbiasa dengan hal ini, toh biasanya pun seperti itu tiap kali nonton di bioskop atau di perjalanan. Semakin lama posisi duduknya makin bergeser dan kini dia tiduran dengan kepalanya berada di atas pahaku. “Cantiknya gadisku ini,” pikirku dalam hati. Tanganku pun kuletakkan di atas perutnya. Ketika adegan ada adegan panas di film, kurasakan nafasnya berubah. Terus terang aku pun merasa terangsang, pelan-pelan kugeser telapak tanganku ke atas payudaranya, tapi dia menolaknya. Karena terbawa suasana, kucium keningnya dan dia tersenyum kepadaku. Kulanjutkan dengan mengecup pipi dan bibirnya, lagi-lagi dia tersenyum. Itu adalah ciuman pertama kami. Ciuman yang awalnya hanya menempel kurang dari sedetik, kini sudah menjadi ciuman penuh nafsu. Lidah kami saling bermain dan tanganku pun sudah meremas-remas payudaranya Tiba-tiba dia bangun dan duduk di sebelahku, “udah ya, nanti keterusan lagi”. “Sorry ya, abis kamu gemesin sih. Tau ngga, itu tadi ciuman pertamaku lho,” ujarku polos. “sammma,” jawabnya lagi sambil menampilkan senyumnya yang bikin makin cinta itu. Kami pun meneruskan menonton film dan hanya menonton. Setelah film selesai, dia bangkit dari duduknya, “Mau ke mana?” tanyaku. “Mau beresin baju dulu buat besok,” jawabnya. Memang besok kami akan pergi ke luar kota bersama seluruh teman satu sekolah. “Mau dibantuin?” tanyaku. “Ayo,” jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya. Aku pun mengikutinya ke kamarnya dan inilah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya. Kamarnya betul-betul menunjukkan kalau dia masih manja, dengan cat pink dan tumpukan boneka di atas ranjangnya. Dia mulai mengeluarkan baju-bajunya. “Yang ini jangan dibawa, terlalu seksi,” kataku ketika dia mengeluarkan bajunya yang memang tipis dan berbelahan dada besar. “Jangan protes doang, nih beresin sekalian,” jawabnya seolah protes dengan memasang wajah ngambek, tapi lagi-lagi tetap terlihat manja. Aku pun mengambil alih lemarinya dan kupilih-pilih baju yang kupikir cocok untuk dibawanya. Tiba-tiba muncul ide isengku untuk memilihkan juga pakaian dalamnya. Kuambil satu yang berwarna krim, “ih jangan pegang-pegang yang itu” jerit manjanya sambil berusaha merebut dari tanganku. Aku pun berlari menghindar, “Wah ini toh bungkusnya, gede juga,” candaku Dia pun menarik tanganku dan memelukku untuk merebut bra dari tanganku yang lain. Segera saja kucium lagi bibirnya dan dia pun membalas ciumanku. “emmmh…emhhh,” suaranya mendesah sambil tangannya memegang tanganku. Kudorong tubuhnya ke ranjang sambil terus berciuman. Kini posisiku ada di atasnya dan menempel di tubuhnya. Terasa betul payudara kenyalnya di dadaku. Kugeser tubuhku ke sampingnya agar dapat meremas payudaranya. “emmmh…emhhhhh…emhhhh,” desahnya makin jelas dan kini tangannya sudah menyentuh penisku dari luar celanaku. “Sudah nafsu banget,” pikirku. Perlahan-lahan kumasukkan tanganku ke dalam kaosnya dan meremas payudaranya langsung. Kuangkat ke atas kaosnya sehingga kini terpampang payudaranya yang besar terbungkus bra krim. Segera kuciumi kedua payudaranya dan tidak lama dia pun melepas sendiri bra tersebut. Benar-benar payudara yang besar dan indah, warnanya kecoklatan dengan puting yang lebih gelap. Kumainkan kedua putingnya, kujilati bergantian. “emmmh….emhhhh…kamu juga buka dong,” pintanya sambil menahan desah. Segera kubuka baju seragam dan celana sekolahku hingga tinggal celana dalam, kulanjutkan dengan membuka celana pendeknya. “celana dalamnya jangan,” tolaknya ketika aku akan menarik lepas celana dalam coklatnya. Kulanjutkan jilatan-jilatanku di puting payudaranya, tangan kiriku memainkan puting yang satu lagi, sedangkan tangan kananku menggesek-gesek vaginanya dari luar celana dalam. “Enak?” tanyaku. Dia hanya mengangguk sambil meremas-remas penisku dari luar celana dalam. Tiba-tiba dia menarik keluar penisku. “dibuka aja ya?” tanyaku sambil kubuka celana dalamku. Tangannya makin kuat meremas-remas penisku, sementara tangan kananku mulai memasuki vaginanya dari samping celana dalamnya. Kugesekkan jari telunjukku ke bibir vaginanya yang sudah basah. Pelan-pelan kumasukkan jariku ke dalam vaginanya, kulihat kepalanya mendongak ke atas sambil terus mendesah. “Boleh dimasukin ga?” tanyaku sambil menatap wajahnya yang sekarang menjadi begitu seksi. “Pelan-pelan ya,” jawabnya dengan nafas terengah-engah. Mendapat persetujuan, aku pun berdiri di bawah ranjangnya dan di antara kedua kakinya. Kutarik lepas celana dalamnya sehingga kini untuk pertama kalinya aku melihat langsung vagina seorang gadis. Vaginanya berwarna coklat dan kedua bibir vaginanya begitu rapat seolah tidak ada lubang di sana. Bulu-bulu kemaluannya yang tipis sudah terkena lendir-lendir yang keluar dari vaginanya ketika kumasukkan jari telunjukku tadi. Kucium vagina tersebut, “iiiihh, apaan sih. Jangan dicium, jijik ah, “ tolaknya sambil kedua telapak tangannya menutup vaginanya. “Abis imut sih,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Kulepaskan kedua tangan yang menutupinya dan langsung kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Sesekali kujilat-jilat kedua putingnya. “ehmmm…ehhhhm….” lenguhnya makin tidak jelas. “Ji, masukin ji, masukin….emmmhhhh,” pintanya. Segera kudorong penisku memasuki lubang vaginanya, begitu sempit namun karena sudah dipenuhi cairan-cairan, akibat rangsangan tadi, perlahan-lahan penisku kun menembus vaginanya. “Oooooooh…ohhhhhhh,” kali ini aku pun ikut mendesah keenakan. Setelah penisku masuk seluruhnya, kurasakan denyutan-denyutan vaginanya menjepit kepala penisku, begitu nikmat. Kutatap wajahnya, mata kami pun berpandangan seolah membuat kesepakatan untuk mulai memompa. Kutarik pelan-pelan penisku lalu kumasukkan kembali pelan-pelan. “Ji, enak banget ji. Aduh enak banget….emmmmhh,” teriaknya makin meracau. Semakin lama kocokan penisku semakin kencang. Kedua tanganku pun terus memainkan kedua puting payudaranya, sambil sesekali meremasnya dan menjilatnya. Dia pun menarik tubuhku memeluknya. Kini tubuh kami serasa menempel, payudaranya menempel di dadaku yang telah berkeringat. Bibir kami berpagutan dan lidah kami saling membelit. Nikmat sekali. Hanya penisku yang masih bisa bergerak keluar masuk vaginanya. “Ji…..ohhhhh…ohhhh….jiii ,” tiba-tiba tubuhnya menegang kemudia lemas sebentar. “Kamu keluar ya?” tanyaku sambil menghentikan kocokan penisku namun masih terbenam di vaginanya.”Iya, enak banget, enak banget. Kamu belum ya?” jawabnya sambil kepalanya menggeleng-geleng pelan seolah baru merasakan sangat enak. Tidak kujawab pertanyaannya tapi kembali kukocok penisku. “Jangan cepet-cepet, masih geli,” pesannya. Karena memang sebetulnya aku pun hampir ejakulasi, tidak lama kemudian aku pun mengeluarkan maniku. “Ohhhhhh…ohhhhh…ke….keee ,” racauku sambil menyemprotkan maniku ke dalam vaginanya | baca juga Cerita Ngentot Adik Teman. Kucabut penisku dan tidur di sebelahnya. “Enak banget, makasih ya ke,” ucapku. Dia Cuma tersenyum dan memelukku dengan kepalanya bersandar di dadaku. Setelah itu kami pun mandi bersama. Besoknya di acara liburan perpisahan sekolah, kami menjadi semakin rapat seperti sepasang pengantin baru. Kami pun beberapa kali mengulangi aktivitas seks di rumahnya. Hingga akhirnya kami berpisah jarak karena harus kuliah di kota yang berbeda dan berujung dengan putus karena sulit mempertahankan pacaran jarak jauh.

Mom Chudi Mere Facebook Friend Se

Hi.. Friends mera naam vikram hai ye mere phele or real story hai jo mere sath hoi..Mai ek midail class family se fairdabad mai rehta hu mere ghar mai mai mummy papa hai bs papa ka aapna kam hai mai kabhi kam pe papa k sath kabhi masti yhi mera kam hai Mere mom house wife hai ye khani mere maa ki hai maa k naam sapna age 48 year figure 36 34 38 hai.. Ab mai khani pe ata hu aapko jyada na pakte howe.Ye khani mere maa or mere fb frnd ki hai mere maa ek normal house wife thi is khani se phele. Ye khani 3 mounth phele ki hai karib 6.. Mounth phele mai aapne ek fb frnd ko aapne ghar la k aya tha or use aapni mom dad se milya tha wo humare ghar se karib 5 km door k hi tha to hum dono mai bhut acchi dosti ho gayi or us k mere ghar ana jana ho gaya wo kabhi kabhi mera na hone mai bhi ane lag gaya kabhi mere maa use markit mai milti to wo maa ki help bhi kar deta tha dhree dhree wo maa se bhut closs ho gaya or maa k no bhi use maa ne da deya tha ye sab mere ko mere us dost ne bad mai batya tha is leye pata hai ek din usne mere maa ko phone kara or pucha ki mai kha hu uncle kha hai maa ne bola sab log kam pe gaye hai to usne kk bol k phone rahk deya ki or bola aunty ko problm ho to aap mujhe bata dena Or karib 30 min me wo mere ghar aa gaya or door bell baja de maa us time ghar k kam kar rahi thi nighti mai thi or puri gili thi maa ne gate open kara to mere dost rahul tha samne maa ne bola are rahul aao ander wo ander aa gaya maa puri gili thi or nighti mai thi wo maa ki dhekta hi reh gaya maa boli is time to usne bola aise hi aunty aapse milne k maan kara to aa gaya aap ghar k kam kar rahe ho mai kuch help kara du to maa ne bola ki nhi sab kam katam ho gaya hai bs mai to ab nahne ja rahi hu To rahul ne majka me bola koi nhi mai nahla du.. Wo aise chote majak phele bhi mere maa se kar leta tha to maa ko pata tha to maa ne bola tum betho mai naha k ati hu phir tumari leye chai banti hu wo bola accha aunty maa aapne room mai ja k kapde la k batroom mai chali gayi jaldi jaldi najhen k leye Mere dost batroom k paas hi ja k khada ho gaya ki sayad kuch dehk jaye bt nhi dehka aise koi jaga thi hi nhi Jabhi use laga ki maa naha le to wo bhag k aa k beth gaya todi der mai maa ki awaj ayi ki rahul suna jara rahul batroom k paas gaya or bola hai aunty to maa ne bola ki wo towel lana bhul gayi jaldi jaldi mai un k bed pe reh gaya hai la k da de rahul maa k bed se towel la k aa gaya or maa ko awaj lagi ki aunty lo towel mere maa ne halk sa batroom khola or hath aage kya or face halk sa bhar kar k rahul ne maa ko towel deya bt hath pakad leya or halk se kich deya jis se maa todi se aage aa gayi or maa k nage boobs dehk gaye maa boli gusse mai rahul ye kya hai to rahul ne halk sa hass k bola aunty majak kar raha tha maa phir gate band kar k kapde pehan k bhar aa gayi or room mai chali gayi phir 5 min bad bhar ayi rahul chup kar k beth tha maa ne rahul ko bola chai piani hai to rahul ne ha kar deya maa kichan mai chali gayi or chai bana lagi rahul kichan mai aya or mere maa se sry bola maa ne halki se smile dete howe bola koi nhi Is bat se jaise rahul ki himat bat gayi wo bola waise aunty ek bat bolo maa bolo bolo to wo bola aapke dhudh bhut acche hai pine k maa kar raha tha maa gusse mai use data or ghar se nikal deya rahul todi der bhar hi khada raha bell bajai maa ne gate nhi khola rahul ne call kari maa ne phone recive nhi kara phir rahul jane k leye jaise hi muda use gate kholne ki awaj ayi wo piche muda to mere maa gate pe thi or un hone rahul ko ander ane ko bola wo ander aya or toda dara bhi tha or maa k phir se bolne se toda khush bhi maa ne use chai de or dono beth k chai pee rahi the rahul maa k dehk raha tha maa ne pucha kya dehk raha hai wo bola kuch nhi aunty maa ne kha chup se chai peyo mai ati hu or maa room mai chali gayi or 5 min bad rahul ko bola ander ane k leye rahul ander gaya To mom ne us bola ki tum ye sab kyo bolte ho mere se or aaj jo kara nhate time wo kyo kara kya chate ho tum.Rahul bina dare is bar bola aunty aap mujhe acche lagte ho mai aapko chata hu is leye ye sab karta hu maa ne us ki traf dehk or boli ki rahul tume mere bete k dost ho ye sab accha nhi lagta tumare sath itna bolte hi rahul ko jaise singnel mil gaya bola ki aunty agar mai us k dost na hota to app ye sab karne dete mere maa kuch nhi boli to rahul ne mere maa ko pakad k kiss karne laga mere maa ne use kiss karne lagi Wo mere maa ko kapde k uper se boobs dawa raha tha or kiss karne laga phir mere maa ne maxi peha rahki thi usne utar de or maa bs panti or bra mai thi wo mere maa k0 bed pe leta k puri boddy ko kiss karne laga or os ki bra utar k boobs chusne laga maa us k sar ko pakad k dawa rahi thi or mere maa ne bola rahul bhut dino se mai sochti thi ki mai bhar kisi k sath aisa karu rahul ki ankh khuli rah gayi aisa kyo aunty maa boli tumari uncle ab ye sab nhi kar pate par mere himat nhi hoti ye sab karne ki tum se jab se mili hu tum majak karte the to mere ko bhut maan karta tha Phir rahul ne mere maa ki panti bhi utar de or maa ki chut chatne laga mere maa pagal se ho gayi or rahul ne aapne kapde utar deye or mere maa k mhu k paas aapna lund rahk deya or chusne ko bola maa ne bola use nhi ata to usne bola ki aunty bacpan mai loli pop chusa hoga na aise hi is ko chus lo phir wo 69 ki pose mai aa gaya or maa use k lund ko chusne laga or wo maa ki chut ko chatne laga 5 min bad rahul maa k mhu mai hi fire ho gaya or maa rahul k mhu me rahul sab pani pee gaay or maa ko bhi bola pee jao maa pee gayi kisi tra first time the to bura laga use par rahul k bolne pe pee gayi Phir rahul ne maa ko kiss karne laga or bola kaisa laga maa hash k boli bhut accha phir rahul ne mere maa se bola lund ko mhu pe la k jaldi se khada karo Maa ne aisa hi kara rahul ne aapne walt se ek condam nikala or bola ki ye kab se tumari leye tha mere jaan or maa ki deya maa ne pehna deya ab rahul maa k uper aa gaya or maa ki chut me set kar k ek jor k dhka mara maa ki chut gili thi lund pura ander chala gaya maa ek dum se chila padi rahul aram se bhut saal se is mai kuch nhi howa aram se karo rahul ne maa ko kiss kara or jatke marne laga karib 10 min aram se karne k bad usne aapni speed tez kar de or jhad gaya jab tak maa bhi jhad chuki thi phir wo maa ki chut pe land dale aise hi leta raha todi der Phir lund nikal k maa k mhu me da deya shaff karne ko or us ki chut khud chat k shaff kar de or maa ne use love u bola or dono uth gaye or kapde pehan leye or rahul aapne ghar chala gaya phir jab rahul ko muka milta wo mere maa ko aa k chudta dosto aapko ye mere real story kaise ladgi pls mere ko mail karna mere mail id haivikramkumarhot2016@ gmail.com Is id se mai fb pe bhi hu aap mujhe join kar sahkte ho.Mai aapke reply k wt karoga or aapne next story mai batoga ki kaise mere maa mere dost ki randi se us k dosto ki randi kaise ban gayi ….

Perawan smp

Cewek ini namanya Ayu, dia temen dari Dian anak SMP sebelah rumah kost gue. Sore itu gue lagi nongkrong di depan kost sambil maen gitar,hampir setengah jam gue di depan, Dian terlihat pulang tapi kali ini sama temen-temennya. eh, Dian baru pulang sekolah ya? kok ampe jam segini? maen dulu ya? gue becandain si dian. Enggak kok mas, tadi ada les di sekolah. oh gitu ya gue jawab dengan santai. trus bawa temen banyak mau ada acara apa? tanya gue lagi. mau belajar kelompok mas, eh kenalin dong mas temen-temen Dian!! Dian nyuruh gue kenalan ma temen-temennya. ni mas Hendra namanya sahut Dian. salah satunya ya si Ayu itu, uh cakep juga si Ayu ini masih kecil tapi bodinya udah mantap beda ma temen lainnya, dalam hati gue terpesona liat si Ayu. mas, Dian kedalem dulu ya!, oh iya-iya.belajar yang akur ya! sambil tersenyum Dian masuk kerumahnya. Malam harinya gue ke rumah Dian karena emang gue dah biasa main kesitu. Gue ngobrol dan becanda-becanda ma Dian, eh, temen Dian yang namanya Ayu tadi manis juga ya? ,kenapa mas? naksir ya? dasar si Dian ga bisa jaim dikit,ceplas-ceplos Dian punya nomer telponnya ga? mas minta ya? Dianpun masuk kekamar dan keluar membawa handphone, ni cari aja sendiri yang dinamain Ayoe ya mas..kata Dian.gue langsung catet nomornya si Ayu. udah mas? tanya Dian. udah nih? makacih ya besok mas beliin coklat deh ,bener ya mas! kata Dian bersemangat karena coklat emang kesukaan dia banget. Tanpa berlama-lama gue coba sms si Ayu, hei Ayu lagi ngapain? masih inget gue ga? tadi gue yang dikenalin Dian waktu kamu maen dirumahnya. eh si Ayu pun balas sms gue oh iya ayu masih inget dong, kan baru tadi.. he he... sms pun berlanjut terus. sehari, dua hari, tiga hari gue ma Ayu smsan,gue coba iseng ngajak dia keluar. Ga gue sangka dia mau gue ajak keluar. hari minggu gue ma Ayu janjian ketemu dan kami pun jalan-jalan muter-muter kota pake motor, ga kerasa udah sore banget dah waktunya pulangin si Ayu. tepat di jalan masuk gang dekat rumahnya,Ayu bilang dah mas nyampe sini aja nganternya!. gue tanya kenapa? mas ga boleh tau rumah Ayu ya?, ga pa pa kok mas lain waktu kan bisa , oh ya udah, besok maen lagi ya? ajak gue. iya mas jawab Ayu. Selang beberapa hari Ayu maen kerumah Dian,gue kebetulan ada di depan rumah Dian, eh mas Hendra, Dian ada dirumah ga mas? tanya Ayu.oh tadi ada di belakang,masuk aja! sekalian aja gue minta dia mampir ke kost gue ntar mampir ke tempat mas ya! dia cuma senyum-senyum Gue masuk ke kamar kost dan tiduran sambil dengerin musik dari komputer gue, kebetulan waktu itu anak-anak kost pada pergi entah kemana jadi kost sepi banget kaya kuburan. Sambil tiduran otak ngeres gue jalan, bayangin si Ayu ada di kamar gue dan gue bisa have a fun ma dia berdua di kamar. ga nahan bodinya masih kecil tapi dah montok semua, depan belakang mantap Saat setengah tertidur, terdengar ada suara dari luar memanggil nama gue. masmas Hendra gue bangun dari kasur dan keluar,gue kaget ternyata si Ayu yang ada di depan. Ayu, ada apa? Dian ga ada ya? tanya gue .ada kok mas tadi cuma bentar dirumah Diannya.sekarang Ayu boleh maen di sini ga mas? , oh, tentu boleh dong..masa ga boleh dalam hati gue pun berkata pucuk di cinta Ayu pun tiba,kami pun masuk ke dalam rumah kost. Rumah kost gue emang disediain tempat buat terima tamu tapi jarang dipake karena biasanya anak-anak kalo terima tamu langsung di kamar masing-masing,lebih santai katanya.mau di sini aja apa di dalem Ayu? gue coba tawarin ke Ayu. dah disini aja mas.. jawabnya. kami pun ngobrol ini itu,saat asik ngobrol,becanda, gue pun mulai nakal megang-megang tangan Ayu lalu gue beraniin cium pipinya. Ayu kaget, wajahnya berubah jadi kemerahan karena malu. ih mas kok nakal sih sambil mukul-mukul gue. gue pegang tangannya dan gue cium pipi yang satunya, wajah Ayu pun makin memerah. gue elus pipinya dan mau gue cium bibirnya, ga mau ah mas katanya. tapi gue tetep maksa cium dia dan akhirnya bibir manisnya berhasil gue lumat perlahan, Ayu pun memejamkan mata menikmati ciuman dari gue.. gue tambah bernafsu menciumi bibir Ayu dan mulai memainkan lidah gue. beberapa saat kami berciuman, gue lepas ciuman gue. Ayu di kamar aja yuk! ajak gue. nti takut ada orang liat kalo disini.. Ayu cuma diam dengan wajah yang masih malu-malu, gue gandeng tangannya masuk ke kamar kost gue dan pintu gue kunci. kok dikunci pintunya mas? tanya Ayu polos.ga pa pa!! jawab gue.gue lanjutin ciumin bibir Ayu sambil mendekap tubuhnya dan mulai meraba bodinya,meremas pantatnya. Saat gue coba meraba susunya,dia mencoba menahan tangan gue tapi karena kalah kuat dengan gue, gue tetep aja berhasil meraba dan meremas-remas susunya sambil terus berciuman, tangan Ayu masih coba menahan tangan gue meraba kedua susunya.lama berciuman gue rebahin tubuh Ayu di kasur dan gue menindih tubuhnya. gue lepas ciuman di bibirnya,mulai menciumi lehernya, meremas lembut susunya kiri kanan, gue coba buka kancing bajunya tapi Ayu mencegah jangan mas..! tapi tetep aja gue paksa buka kancing bajunya satu persatu sehingga terlihat penyangga susunya yang berwarna putih lalu perlahan gue lepas bajunya.gue buka pengait branya sambil menciumi bibir dan leher Ayu dan melepasnya dari tubuh Ayu. terlihat payudara Ayu masih sangat indah,kencang dengan puting kecil berwarna kemerahan. Ayu hanya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya sendiri saat gue mulai menjilati puting dan meremas susunya,terus bergantian kanan kiri dengan meninggalkan tanda merah bekas cupangan gue. Ayu pun semakin menikmati cumbuan itu,susunya pun terasa mengeras tanda dia telah terangsang, terdengar desahan-desahan lirih dari bibirnya, kedua tangannya menjambak rambut gue. emhhukhhmasss. gue lepas baju juga celana pendek gue, tinggal celana dalam aja yang keliatan ga muat menampung penis gue yang udah berdiri dari tadi. ihmas kok dilepas semua.., udah sempit nih Ayu.. jawab gue. gue kembali menindih tubuh Ayu dan kali ini gue cium lembut mulai dari kening berlanjut kedua matanya dan pipinya kembali melumat bibirnya,lehernya, susunya lalu turun ke perut,desahan Ayu terdengar kembali ehhh. massmmmh lama gue bermain di daerah susu dan perutnya,gue coba buka kancing dan resleting celana Ayu, mas jangan mas..Ayu ga mau.. cegah Ayu tegas.gue coba ngertiin Ayu dan kembali menciumi bibirnya.setelah dua kali mencoba dan ga diijinin,sambil gue lumat bibirnya tangan kanan gue kembali mencoba membuka resletingnya, ternyata kali ini Ayu hanya diam dan merelakan gue lepas celana panjangnya.sekarang kami berdua hampir bugil dengan hanya memakai celana dalam.gue ciumin pahanya,perutnya,susunya,bibirnya dan menindih tubuh Ayu lagi,kali ini gue gesek-gesekkan penis gue ke memek Ayu sambil bermain lidah di mulut Ayu. Ayu sedikit mengangkangkan kakinya sehingga gue gampang menggesekkan penis gue. cukup dengan gesek-gesekan alat kelamin, gue kembali menciumi leher,susunya lalu perut dan akhirnya sampai ke memek Ayu yang masih tertutup celana dalam. Ayu menggeliat keenakkan dan meremas rambut gue dengan keras waktu gue ciumin bagian memeknya.. eehhmhhmasss..ahhh. beberapa saat gue sudahi ciumin di memek Ayu dan melepas celana dalam gue.Ayu masih terbaring di kasur. Ayu..mas pengen diciumin kaya mas ciumin punya ayu tadi dong.. minta gue merayu. Ayu menggelengkan kepalanya.ayo dong sayang!! rayu gue. Ayu belom pernah mainan itu..mas jawabnya. sekarang Ayu coba deh..!!. gue deketin penis gue ke wajah Ayu, ayo sayang!! rayu gue lagi. dengan malu-malu Ayu pegang penis gue dan dengan ragu Ayu ciumin penis gue. uh.. enak sayang..sedot sayang.. Ayu pun mulai terbiasa dan tau apa yang harus diperbuat,Ayu mengocok penis gue di mulutnya. beberapa saat Ayu mengulum penis gue,dia bilang mas, udah ya mas.. iya sayang. jawab gue. kini giliran gue lagi membuat Ayu keenakkan, gue cium bibirnya dan menciumi memeknya lagi.Ayu mendesah keenakkan ehhhmm..mmmhh.. saat Ayu sedang terbuai gue lepaskan celana dalamnya.tubuh Ayu yang tanpa penutup apa-apa itu benar-benar bikin gue ga tahan, putih, bersih dan mulus.bagian memeknya baru mulai ditumbuhi rambut-rambut halus keliatan seksi banget.gue lumat lagi bibir Ayu sambil tangan gue mengelus-elus memeknya,gue pijit lembut klitorisnya.gue beralih mencium dan memainkan lidah di memeknya, gue gigit ringan klitorisnya,Ayu menggeliat dan menjambak rambut gue dengan keras,masss.Ayu mau kee..luu..ar. Ayu mendapatkan orgasme pertamanya,memeknya basah dengan cairan yang keluar. akhhh.ehhhmmm Ayu terus mendesah karena orgasmenya. Ayu mau yang lebih enak lagi? tanya gue setengah merayu..,gimana mas?.. tanya Ayu polos. caranya mas masukin punya mas ke memek Ayu, ga mau ah maskan belom boleh..sakit katanya mas jawabnya. ga kok ga sakit..enak banget malah rayu setan gue. Ayu hanya diam dan gue mulai mencumbunya lagi. mas masukin sekarang yah,bisik gue di telinganya. kakinya gue kangkangin,terlihat wajah ragu Ayu saat gue arahkan penis gue ke memeknya,gue cium dulu kening dan bibir Ayu.. gue gesek-gesekkan penis gue ke memek Ayu yang masih basah oleh cairan orgasmenya dan memulai penetrasikan penis gue sedikit demi sedikit,memeknya terasa sempit banget walau baru kepala penis gue yang masuk ke lubang senggamanya,gue keluarin penis gue dan penetrasi lagi lebih dalam. mas.saakit mas rintih Ayu. gue cabut penis gue yang belum ada setengahnya masuk ke lubang memek Ayu. gue cium lagi bibir Ayu tahan ya sayang!! bisik gue. kembali gue penetrasikan penis gue perlahan lebih dalam dan lebih dalam lagi, terlihat darah keluar dari memek Ayu. Ayu menjerit kesakitan akhhsaakittt mas kini penis gue benar-benar ditelan dan terasa terjepit lubang senggama Ayu.terlihat setitik air mata mengalir dari sudut matanya.wajah Ayu masih menahan sakit karena keperawanannya robek oleh penis gue.gue diam beberapa saat agar Ayu mampu menguasai sakit di memeknya sambil menciuminya. setelah dia agak tenang, gue mulai menarik dan mendorong penis gue,maju mundur perlahan. gue terus mengocokkan penis gue di memeknya perlahan,terasa lubang senggama Ayu sudah bisa menerima penis gue,gue percepat gerakan penis gue. Ayu pun sudah tidak lagi merintih kesakitan tapi berbalik mulai merasakan kenikmatan.. akhhhukhhmass..akhh..desah Ayu keenakan. gue ciumin bibir Ayu sambil terus mengocok penis gue di memeknya. ukhhhakhhh..ehhmm desahan nikmat kami berdua. Ayu mendekap erat tubuh gue, Ayumau ke..luar lagi bisiknya,terasa cairan hangat menyemprot kepala penis gue, Ayu orgasme yang kedua kali. penis gue terus keluar masuk di memek Ayu..beberapa saat setelah Ayu orgasme yang kedua, gue merasa sudah hampir mencapai orgasme. gue mempercepat gerakan penis gue.. mas udah mau keluar Ayu.. , akhhh.uhhh.. Ayu ju..gaa ternyata Ayu orgasme duluan. merasa sudah di pucuk,gue cabut penis gue dan menumpahkan sperma gue di perut Ayu. akhhmmmmhh kami berdua terkulai berdampingan, gue menyeka keringat di kening Ayu dan mengecupnya. makasih ya sayang bisik gue, Ayu hanya tersenyum kecil. gue bersihin sperma di tubuh Ayu yang terkulai lemas dan darah di memeknya dengan handuk kecil. bobo aja bentar sayang, nti mas bangunin.. kata gue. tak lama Ayu pun terlelap dan gue tutupi tubuhnya dengan selimut. gue pandangi wajah Ayu, memang manis banget anak ini,beruntung banget gue bisa dapetin dia dalam hati gue berkata. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, gue cium pipi Ayu buat bangunin dia. bangun sayang dah sore.. kata gue. Ayu pun bangun, saat akan berdiri Ayu masih merasa perih di memeknya..akhh.. rintih Ayu sambil menggigit bibirnya. Ayu perlahan mengenakan semua pakaiannya kembali. kamar mandi mana mas? tanya Ayu. oh itu dibelakang.. kata gue, sambil menunjuk kamar mandi. terlihat Ayu berjalan pelan menahan sakit di kemaluannya menuju kamar mandi. setelah selesai dari kamar mandi Ayu pamit pulang. mas Ayu pulang dulu ya, dah sore banget katanya. iya, Ayu jangan lewat depan rumah dian ya, lewat samping aja saran gue. sebelum pulang gue cium lagi kening dan bibir Ayu jangan bilang sapa-sapa ya sayang!!!bisik gue. Ayu hanya mengangguk hati-hati ya Ayu!!.. Tamat

Minggu, 29 Maret 2015

Kisah gadis smp 2

"Hihihihihihi.." aku tertawa kecil. "Aku bakal bikin kamu nggak akan ngelupain hari ini.." kataku sambil mencium bibirnya lagi. Kemudian aku suruh Angga untuk membuka kakinya lebar-lebar hingga kakiku bisa berdiri tepat di depan penisnya yang sudah lunglai. "Aku kasih waktu buat bangunin penis kamu sampai vaginaku sampai di depan penis kamu!!" perintahku kepada Angga. Dengan posisi berdiri seperti ini, posisi vaginaku tepat berada di depan muka Angga, aku pegang kepala Angga, kemudian aku suruh menjilati vaginaku. "Jilatin vagina gue!!" kataku ketika aku sudah berdiri seimbang. "Jangan seperti itu njilatinnya, pelan-pelan aja.." protesku ketika Angga menjilat vaginaku secara sembarangan. Sekali-kali aku lihat penis Angga, rupanya sudah hampir tegang penuh. Lama kelamaan aku merasa terangsang, apalagi ketika lidah Angga menyentuh klitorisku. Aku pegang kepala Angga, dan menggoyangkan pinggulku di depan kepalanya, aku gesek-gesekkan vaginaku ke mukanya, sambil aku membenarkan posisi kakiku, kemudian aku gesekkan vaginaku ke dagu, dada, hingga sampai perut. Aku sudah nggak bisa turun karena pantatku kehalang penis Angga yang sudah tegang. Aku angkat pinggulku kemudian arahkan vaginaku ke penis Angga. Nampaknya Angga sudah siap betul. Sambil menatap Angga aku masukkan penis Angga ke dalam vaginaku, kemudian dengan cepat aku keluarkan lagi. Aku tertawa kecil dan aku mengulanginya lagi sampai beberapa kali hingga aku merasa terangsang. Kemudian aku masukkan vaginaku tetapi hanya setengahnya saja kemudian aku jepit penisnya dengan sekuat tenaga, kemudian aku tarik pelan-pelan hingga sampai kepala penisnya, kemudian aku masukkan lagi hingga setengah dan aku tarik lagi. Aku lakukan itu beberapa kali hingga aku lelah menjepit penis Angga. Bersamaan itu, Angga ejakulasi lagi, rupanya dia sudah tidak tahan dengan permainanku. "Aduuhh.. Kok sudah keluar lagi sih" batinku agak kecewa.. Aku keluarkan penis Angga dari vaginaku lalu aku kulum penisnya untuk membersihkan penisnya lagi. Kemudian aku kembali ke posisi semula. Kemudian dengan penis Angga yang masih lunglai aku berusaha masukkan lagi ke dalam vaginaku, agak susah sih, karena nggak bisa menembus vaginaku yang masih cukup rapat. Akhirnya bisa juga karena aku buka lebar-lebar mulut vaginaku, dan mendorong penis Angga masuk ke dalam. Begitu masuk ke dalam vaginaku, aku tunggu Angga hingga dia ereksi sempurna, beberapa menit kemudian, segera aku goyangkan pinggulku dengan tempo lambat. Aku yakin Angga nggak bakalan cepet keluar lagi soalnya penisnya sudah mulai pengalaman dan persediaan air maninya sudah hampir habis? Sewaktu menggoyangkan pinggulku itu aku sekali-sekali menjepit penis Angga kemudian aku lepaskan lagi. Hingga akhirnya aku merasa hampir orgasme aku percepat tempo goyanganku. Rupanya Angga juga sudah hampir keluar. "Tahan Ga, kita keluar barengan" pintaku. Rupanya Angga sudah hampir bisa mengimbangiku, dan benar saja ketika aku orgasme Angga menyusul kemudian, hebat dia bisa 2 detik lebih lama dariku. "Kamu sudah mulai hebat Ga.." bisikku sembari mencium bibirnya dengan lembut. Kami berpelukan dan tanpa terasa kami ketiduran cukup lama hingga aku merasakan penis Angga mulai ereksi lagi di dalam vaginaku. Segera aku melepaskan penis Angga dari dalam vaginaku, kemudian aku berdiri sembari menunggu penis Angga berdiri. Rupanya cukup lama hingga harus aku bantu dengan mengocoknya. Saat penis Angga sudah ereksi sempurna, aku membalikkan badan dan berpegangan di pintu sambil membungkukkan badanku. "Ga.. Masukin sini.." pintaku manja sambil menunjuk ke vaginaku. Angga segera bangun dan langsung menempelkan penisnya ke vaginaku. "Pelan-pelan aja dulu, jangan buru-buru.." kataku ketika penis Angga secara kasar ditusukkan ke vaginaku. Akhirnya setelah penisnya dikeluarkan, Angga mencoba untuk memasukkannya kembali, kali ini dia lebih lembut lagi, pantatku diusapnya dulu, kemudian tangan kirinya meraba payudaraku dari belakang, kontan saja putingku langsung menegang ketika tangan Angga menyentuh payudaraku. Sementara itu, tangan kanannya memegang pinggangku agar tidak bergerak, lalu dia mulai memasukkan penisnya. Nampaknya dengan gaya seperti ini penisnya gampang masuk, dengan 2 kali coba, penisnya sudah masuk ke vaginaku. Kali ini Angga tidak terlalu buru-buru, sehingga aku merasakan nyaman, aku rasa Angga pun demikian. "Digoyang Ga.." pintaku kepada Angga ketika penisnya sudah menancap di vaginaku, langsung saja Angga menggoyang pinggulnya. Ini adalah gaya favoritku, sehingga setiap penis Angga menyodok masuk, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, tanpa sadar aku meracau keenakan. "Ahh.. Uhh.. Yeah.. Ahh.. Aahh.. Terus Gaa.. Uhh.." racauku tanpa sadar. Dan tampaknya Angga tidak tahu kalau aku hanya meracau, dia segera mempercepat goyangannya. Aku terkejut dengan yang dilakukannya, meskipun nikmat tapi aku merasa khawatir.. "Aahh.. Aku keluaarr.." erang Angga kemudian.. Tuh khan, yang aku khawatirkan terjadi juga, Angga masih terlalu amatir untuk berhubungan seks. Angga kemudian membenamkan penisnya ke dalam vaginaku untuk beberapa saat, kemudian dia mencabutnya. "Plaakk.." aku menampar pipi Angga. "Aku khan sudah bilang jangan buru-buru!! Kamu tu masih amatir!!" makiku kepadanya. Angga hanya bisa terkejut dan nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Segera aku keluar toilet dan kembali ke tolietku semula. "Sial!! BH dan celana dalamku dirobek Angga. Gimana ya? Mana vaginaku masih banyak air mani Angga!!" Aku mengumpat dalam hati. Segera aku bersihkan vaginaku lagi. Kali ini aku tutup pintunya dengan benar. Setelah itu aku kenakan rok-ku. "Aduh pake apa ya.." aku bingung harus pake apa buat dalemannya, akhirnya aku gunakan celana olahragaku buat pengganti celana dalam, padahal rok-ku sempit, jadinya dengan tambahan celana olahragaku, rok-ku jadi tambah sempit. "Tapi BH-nya pake apa ya? Masa nggak pake BH? Mana seragamku tipis.." pikirku. Akhirnya aku langsung pake seragam tanpa BH. Bisa dibayangkan dengan ukuran payudara segitu (34B) pake seragam sekolah, tanpa BH, dan puting yang menonjol, pasti bikin ngeres orang yang liat. Aku berniat masuk kelas untuk mengambil rompi yang selalu aku bawa, tapi sekarang rompi itu ada di kelas. Akhirnya dengan hati-hati aku keluar dan menunggu hingga sepi untuk bisa masuk kelas dan kemudian mengambil rompiku. Aku berharap tidak ada orang yang melihatku. Ketika kau keluar dari toilet aku berpapasan dengan Angga, nampaknya dia masih merasa bersalah, aku hanya tersenyum kepadanya ketika dia memanggilku. "Nggak ada waktu.." pikirku, dan aku segera melesat ke kelas. Aku berjalan melewati lorong dengan perasaan khawatir, khawatir kalau ketemu guru atau teman. Kalau dengan kondisi biasa sih enggak masalah, tapi dengan kondisi seperti ini? Gile banget deh.. Akhirnya setelah melalui perjuangan panjang, sampai juga aku di kelasku, rupanya kelas sepi, anak-anak sedang jajan di kantin. Kesempatan!! pikirku, segera saja aku masuk dan menuju ke tasku dan segera memakai rompiku. "Vita..!!" tegur seseorang.. "O.. Oww.." aku kaget setengah mati, rupanya Wulan teman sekelasku. Wulan cewek cantik di kelasku, menurutku dia seksi, dengan ukuran payudara yang hampir sama denganku, hanya saja dia lebih gemuk 2 kilo dariku. Aku 163/45, sedangkan Wulan 162/47. Wulan adalah salah satu cewek di sekolahan ini yang sering aku jadikan objek fantasiku. Dan aku rasa Wulan ada perhatian denganku, apakah Wulan lesbian? Entahlah.. Tapi aku tebak, Wulan sudah nggak virgin lagi. "Kenapa kamu Vit?" tanya Wulan kemudian. "Nggak Papa kok Lan.." sembari duduk di kursiku.. Wulan kemudian duduk di sebelahku. Rupanya aku lupa mengancing rompiku, dan aku rasa Wulan melihat aku nggak pakai BH saat itu. "Kamu kok nggak pake BH Vit?" tanyanya tiba-tiba.. Kontan aja aku kaget, kok dia tahu.. "Ehmm.. Ahh.. Uhhmm.. Gimana ya.. Ehmm.." bingung bow jawabnya. Tapi Wulan sepertinya mengerti dengan apa yang terjadi denganku. "Sama siapa kamu barusan? Terus celana dalem kamu kemana? Tangan kamu kok ada bekas ikatan?" pertanyaannya bikin aku mati kutu. Karena aku tidak bisa menjawab, Wulan akhirnya tersenyum. "Tenang aja lagi, aku ngerti kok, enggak usah khawatir" bisik Wulan sambil tersenyum, kemudian Wulan mencium pipiku, lalu keluar kelas menuju kantin. Aku kaget juga dengan yang dia lakuin barusan, Wulan cium aku? Apa maksudnya nih? Tapi aku sudah ngerasa tenang dan sedikit senang karena Wulan ada perhatian denganku. Tepat pukul 10.15 guru English masuk ke kelas, guru ini terkenal on-time dan agak killer, makanya begitu tahu gurunya datang, anak-anak langsung pada masuk. "Vit, aku duduk sebelah kamu ya.." Wulan tiba-tiba duduk di sebelahku. "Ha.. Oohh.. Ok.. Silakan aja.." jawabku terbata-bata. Aku memang duduk sendiri, karena jumlah murid di kelasku ganjil, maka aku nggak dapet teman sebangku sendiri. Kasian ya gue? Selama pelajaran berlangsung Wulan mengamati aku, aku jadi salah tingkah dibuatnya, makanya aku pura-pura tidur saja. "Vita, are you ok?" Tanya guru English-ku. "She's sick sir, I'll take Vita to UKS.." Wulan langsung menjawab pertanyaan guruku. "Oohh.. Ok, please Wulan.." Guruku mengizinkan. "Ayo Vit, kita ke UKS" ajak Wulan sambil menggandeng tanganku. "Apa-apaan nih?" batinku dalam hati. Wulan membawaku ke ruang UKS, padahal aku nggak sakit. Selama perjalanan Wulan menggandeng mesra tanganku, sembari memepetkan tubuhnya ke tubuhku. Aku hanya bisa diam dan mengikuti apa maunya.Akhirnya kami tiba di ruang UKS, ruangan ini terdiri dari beberapa kamar yang tertutup, sehingga orang tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam. Wulan membawaku ke kamar yang paling ujung. Di dalam kamar itu terdiri dari 3 tempat tidur. Tiba-tiba Wulan mengunci pintunya. "Lan, maksud kamu apa s.." belum selesai aku ngomong tiba-tiba Wulan mencium bibirku dengan lembut. Sambil tangannya meraba-raba tubuhku. Mau tak mau aku terangsang juga, tapi aku berusaha untuk mengendalikan diri. "Kamu cantik Vit, aku suka kamu.." bisiknya kepadaku. Rupanya Wulan benar-benar ada rasa denganku. Aku kaget juga, soalnya setahuku dia juga punya pacar. Tapi apakah dia seperti aku juga? Aku juga sering berfantasi dengannya, dan sekarang aku malah sudah berhadapan dengannya. Aku tersenyum ketika dia akan mencium bibirku, aku balas ciumannya, akhirnya kita berciuman dengan agak liar, sampai akhirnya Wulan mendorongku ke tempat tidur. Wulan menindihku, payudara kami saling bertemu. Kemudian dia menciumku lagi, aku merasakan tubuh Wulan menggesek-gesek tubuhku, aku cukup terangsang saat ini, aku merasa vaginaku basah, aku lebih mudah terangsang bila dengan cewek. Aku peluk tubuh Wulan dan mencoba untuk membuka resluiting rok Wulan. Sedangkan Wulan masih menciumiku sambil mengelus-elus rambutku, rupanya dia sudah menantikan saat ini, ini dilihat dari nafsunya yang sangat tinggi. Wulan kemudian melepaskan rok-nya yang sudah longgar, rupanya Wulan sudah tidak pakai celana dalam, kemudian aku lepaskan pelukanku. Dengan posisi Wulan berada di atasku, Wulan membuka satu-persatu kancing seragamku. Akhirnya seragamku lepas dan payudaraku menyembul keluar. Wulan kemudian melepaskan rok-ku, dan celana olahragaku, akhirnya aku telanjang bulat, dan benar vaginaku sudah basah oleh cairanku. Wulan kemudian melepaskan seragamnya dan BH-nya, sehingga jadilah kami telanjang bulat. Wulan kembali menindihku sehingga payudara kami saling bertemu lagi tanpa halangan. Karena payudara kami sama-sama sudah tegang, maka Wulan agak kesulitan untuk menciumku, tapi akhirnya bisa juga. Wulan menggesek-gesekkan vaginanya ke vaginaku, sehingga aku merasakan kenikmatan, Wulan pun merasakan hal yang sama. Aku hanya diam dan menikmati semua yang dilakukan Wulan. Wulan kemudian menciumi leherku, dan payudaraku. Dia menghisap puting susuku dengan lembut, kadang-kadang dia menggigitnya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa saat itu. Kedua payudaraku dijilatinya secara rata dan di usapnya hingga putingku berdiri tegak. "Ahh.. Ah.. Ahh.." aku mendesah karena nikmat yang aku rasakan. Wulan kemudian turun lagi, dia menciumi perutku yang rata, menjilati pusarku, dan kemudian dia menjilati vaginaku. Wulan memasukkan jarinya ke dalam vaginaku dan mencari klitorisku, setelah itu dia menjilatinya. Aku merasakan sensasi yang luar biasa saat lidah Wulan menyentuh klitorisku, aku serasa melayang. "Ahh.. Iya.. Disitu.. Aahh.." aku mendesah saat Wulan menggigit klitorisku. Tak lama kemudian aku orgasme, aku merasakan orgasme kali ini sungguh spesial, karena aku orgasme karena cewek. Rasanya sungguh nikmat dibandingkan dengan cowok. Wulan kemudian bangun dan mengambil thermometer yang ada di ruangan UKS ini, Wulan memasukkan thermometer itu ke dalam vaginaku. "Apa yang kamu lakuin?" protesku. Tapi Wulan hanya tersenyum saja sembari tetap memasukkan thermometer ke dalam vaginaku. "320 Celcius.." gumannya saat Wulan melihat penunjuk di thermometer, rupanya Wulan memasukkan thermometer ke dalam vaginaku hanya untuk mengukur suhunya, sialan batinku. Kemudian Wulan membuka lemari UKS, rupanya Wulan sudah merencanakan hal ini, buktinya dari dalama lemari itu, Wulan mengambil beberapa alat yang pernah aku lihat di film-film porno. Seperti penis buatan (dildo), vibrator, masker, hingga sabuk penis. Wulan memakai sabuk penis hingga dia seperti seorang cowok berpenis besar dan panjang, namun juga berdada besar. Wulan mendekatiku yang masih terbaring di tempat tidur, Wulan kemudian memasukkan penis itu ke dalam vaginaku, kemudian mulai menggoyangnya, aku yang baru saja orgasme, langsung timbul lagi gairahku, segera saja aku imbangi goyangannya sehingga kami dapat menimbulkan goyangan yang seirama. Sudah lama aku tidak merasakan seperti ini lagi semenjak putus dengan pacarku dulu. Aku kadang-kadang meremas-remas payudara Wulan, nampaknya Wulan suka ketika aku pelintir puting susunya, Wulan semakin bersemangat menggoyangnya setiap aku sentuh payudaranya. Sesekali aku meraba pantatnya, kemudian memasukkan jariku ke dalam anusnya, Wulan sepertinya juga merasakan hal yang sama denganku, karena aku lihat dari raut mukanya, dia menunjukkan kenikmatan. Tak lama kemudian, karena goyangan penis yang konstan dan terus menerus, akhirnya aku mencapai orgasme. Saat aku orgasme Wulan terus menggoyang pinggulnya, nampaknya Wulan tidak tahu aku sudah orgasme. "Aduuhh.. Ahh.. Sudahh.. Aku keluaarr.." rintihku ketika Wulan masih tetap menggoyang pinggulnya. Namun Wulan bukannya berhenti malah mencabut penisnya dan kemudian memasukkan ke dalam anusku. Sakit sekali rasanya saat itu. "Aduuhh.. Jangaann.. Please.. Sakiitt.." aku setengah berteriak. Namun nampaknya Wulan tidak peduli, dia terus saja menggoyangnya. Beberapa saat kemudian karena anusku tidak licin lagi, Wulan kembali mencabut penisnya dan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Kontan saja aku kaget, karena selama ini aku belum pernah merasakan hal semacam ini. Karena kalau cowok pasti nggak bakalan bisa kayak gini. Wulan terus menggoyang pinggulnya hingga aku hampir orgasme lagi. Gilee.. Akhirnya aku orgasme lagi. Wulan kemudian mencabut penisnya, lalu bangun dan melepaskan penisnya. Sementara aku masih terbaring kelelahan. "Kamu juga harus coba Vit.." katanya sambil memberikan sabuk penisnya kepadaku. Aku mengambilnya dan mencoba memasangnya, cara memakainya rupanya seperti memakai sabuk pengaman para wall climber. Aku tersenyum sendiri ketika sabuk penis itu sudah terpasang, rasanya aneh, karena sekarang aku serasa punya sesuatu yang baru di tubuhku. Aku melihat Wulan sudah terlentang di tempat tidur sambil menekuk kakinya, hingga vaginanya terlihat. "Masukkan sini Vit.." pintanya lembut. Aku segera mendekatinya dan mencoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Agak kikuk, karena biasanya aku dimasuki, kini aku harus memasuki. Aku pegang penisku, dan pelan-pelan aku tempelkan di bibir vagina Wulan, kemudian dengan dibantu tanganku, penisku aku dorong masuk ke dalam vagina Wulan, sulit juga, pantesan tadi Angga susah. Akhirnya dengan mata kepalaku sendiri aku melihat penisku masuk ke dalam vagina Wulan sedikit demi sedikit. Aku sempat melihat Wulan, dia membuka mulutnya sambil mendesah setiap aku mendorong penisku masuk. "Sshh.. Yaahh.. Sshh.." desahnya setengah berbisik. Aku dorong penisku terus, namun rupanya penis ini terlalu panjang, karena belum sampai penuh, aku merasakan ujung penisnya sudah menyentuh rahim Wulan. Kemudian pelan-pelan aku goyangkan pinggulku, sementara Wulan juga melakukan hal yang sama. Jadilah aku seperti cowok sekarang, sementar itu Wulan masih tetap mendesah dan sekali-kali meraba-raba payudaraku dan memegangi pinggangku. Cukup lama kami bergoyang hingga akhirnya Wulan mencapai orgasme, aku sendiri tidak tahu karena aku tidak merasakan apa-apa ketika menyetubuhi Wulan tadi, namun aku tetap merasa terangsang, karena memandang wajah Wulan yang cukup cantik. Pada saat Wulan orgasme, penisku aku cabut, dan aku arahkan ke mulut Wulan. Aku duduk di payudara Wulan, sedangkan aku arahkan penisku yang masih berlumuran cairan vagina kami ke mulutnya. Wulan rupanya tahu dengan maksudku dan segera menghisapnya hingga bersih. Setelah itu, aku bangun dan melepaskan sabuk penis itu. Aku mengantinya dengan vibrator. Aku setel dengan speed yang medium, kemudian sebagian aku masukkan di vaginaku, sementara ujung yang satunya, aku masukkan ke vagina Wulan. Aku berbaring di sebelah Wulan sambil memeluknya, Wulan pun menyambut pelukanku. Kami saling berpelukan, berciuman, sementara kami terus mendesah karena sensasi yang ditimbulkan vibrator di vagina kami. Beberapa menit kemudian kami orgasme bersamaan, dan cairan kami berdua membasahi vibrator dan sprei. Selang beberapa saat aku bangun, kemudian mulai menjilati vagina Wulan, vagina Wulan cukup rapat, dengan klitoris yang cukup besar sehingga mudah untuk kujilat dan kugigit. Wulan mengerang ketika aku gigit klitorisnya. "Ahh.. Yaa.. Teruuss.." Wulan mengerang setengah berteriak. Aku khawatir ada orang yang mendengar, maka aku putar tubuhku, hingga sekarang kami berposisi 69. Aku di atas, sedanngkan Wulan di bawah. Kami saling menjilati, menggigit klitoris, dan memasukkan jari ke dalam vagina. Entah berapa lama hingga kami mencapai orgasme yang bersamaan. Setiap orgasme, kami tukar tempat. Wulan di atas, aku di bawah. Kadang aku masukkan beberapa thermometer ke dalam anus Wulan, Wulan pun demikian, dia memasukkan vibrator yang dia bawa ke dalam anusku, kami mencoba semua alat yang dibawa Wulan hingga kami kelelahan. Hingga akhirnya, kami tertidur sambil berpelukan dengan kondisi telanjang, dan hampir semua barang Wulan menancap di vagina dan anus kami. Di anusku sabuk penis menancap, dan vibrator menancap di vaginaku dalam kondisi masih bergetar, aku sangat menikmatinya sehingga aku tidak berniat untuk mematikannya. Sedangkan kondisi Wulan tidak jauh berbeda denganku. Di vaginanya tertancap 2 buah dildo dan di anusnya tertancap 3 buah thermometer. Payudara kami saling bertemu dan terasa lengket, sedangkan tubuh kami bermandikan keringat. Kasur dan sprei acak-acakan, namun kami tetep cuek saja, dan tetap tidur. Aku terbangun karena aku merasakan hampir orgasme, rupanya vibrator yang masih bergetar itu sudah membuatku orgasme beberapa kali tanpa aku sadar. Itu terlihat dari cukup banyak cairan yang keluar dari sela-sela vibrator yang menancap vaginaku. Aku kemudian mencabut semua yang menancap di tubuhku, kemudian membersihkan badanku dengan handuk yang ada di ruangan itu. Kemudian aku berpakaian seperti biasa. Aku melihat jam, sudah jam 2 sore. Cukup lama kami bercinta tadi. Wulan masih tertidur pulas, dengan barang-barang yang menancap di vagina dan anusnya. Aku mendekati Wulan dan mencium bibirnya dengan lembut, kemudian aku cabut dildo dan menukarnya dengan vibrator, dan aku setel dengan speed yang low. Wulan tampak mendesah ketika aku masukkan vibrator itu ke dalam vaginanya. Aku cium sekali lagi bibirnya kemudian melangkah keluar dan pulang menuju rumah. Hari yang melelahkan dan tidak terlupakan. Tamat

Sabtu, 28 Maret 2015

Vita gadis smp 1

Kisah ini terjadi sewaktu aku masih kelas 3 SMP. Sekarang aku sudah hampir kuliah, tinggal nunggu pengumuman saja. Sebut saja aku Vita, waktu itu aku masih berumur 15 tahun. Tapi entah kenapa bentuk tubuhku sudah berbeda dengan teman-teman sebayaku. Dengan tinggi 163 cm dan berat 45 kg, aku cukup dikenal di sekolah, apalagi aku tergabung sebagai anggota cheerleader yang sering tampil di depan umum. Rambut hitamku aku panjangkan hingga sebahu, kulitku putih bersih (tapi aku bukan chinesse), dan ukuran dadaku cukup besar 34B. Saat itu aku sudah mengenal seks, itu aku dapatkan ketika aku masih duduk di kelas 2 SMP, saat itu aku masih pacaran dengan seorang mahasiswa dari sebuah universitas swasta di kotaku. Semenjak saat itu gairah seks-ku semakin meningkat. Hampir setiap hari kami melakukan hubungan itu. Namun semenjak aku putus dengan pacarku, aku kehilangan orang yang dapat memenuhi kebutuhan biologisku. Sebagai gantinya aku sering melakukan mastrurbasi bila aku sedang terangsang. Aku sering tidur dalam keadaan telanjang, hanya dilapisi selimut biar nggak kedinginan. Kalau sudah begitu aku pasti akan berfantasi sedang berhubungan intim dengan teman-teman sekolahku. Aku lebih suka berfantasi dengan teman sekolahku daripada dengan orang yang lebih tua apalagi orang bule. Fantasiku tidak hanya teman cowok, tetapi juga cewek-cewek yang cukup cantik dan seksi. Mungkinkah aku hypersex? Dibalik selimutku, aku sering memasukkan jari-jariku ke dalam vaginaku, kemudian memainkan klitorisku hingga aku mencapai orgasme, dan aku ulangi lagi hingga benar-benar badanku lelah dan tubuhku penuh dengan keringat. Tidak jarang aku masukkan juga sikat gigi ke dalama vaginaku, kemudian jari-jariku memuntir-muntir puting susuku yang aku lakukan dalam tempo yang lambat. Aku membayangkan saat itu aku sedang disetubuhi oleh temanku, hingga akhirnya aku mencapai orgasme. Kemudian sikat gigi yang basah oleh cairan vaginaku itu aku oleskan ke sekitar puting susu yang sudah menegang. Itu aku lakukan berulang kali hingga aku kehabisan tenaga. Orang tuaku tidak pernah tahu hal itu, karena mereka sibuk, lagipula kamarku cukup mendukung. Bahkan ketika aku berhubungan seks dengan pacarku dulu, tempatnya juga di kamarku. Pagi itu aku bangun dalam keadaan telanjang, dan sikat gigi masih menancap di vagina dan cairan vaginaku tampak masih meleleh keluar, puting susuku terasa lengket, cukup banyak aku orgasme tadi malam. Aku tersenyum melihat diriku di cermin, kemudian aku berdiri dan membiarkan sikat gigi menancap di vagina. Aku masuk ke kamar mandi yang kebetulan masih berada di kamarku. Kemudian dengan shower aku siram tubuhku, terutama bagian payudara dan vagina. Ketika sikat gigi aku cabut, tiba-tiba aku merasa terangsang lagi, segera aku semprotkan shower ke dalam vagina sambil mengusap payudaraku dengan sabun, cukup lama aku hingga aku orgasme. Setelah itu aku mandi seperti biasa. Hari ini ada pelajaran olahraga. Aku tidak begitu suka dengan pelajaran ini, selain aku tidak mahir olahraga, pasti aku akan jadi pusat perhatian cowok-cowok, mana pakaiannya ketat banget, huuhh.. (Aku lebih suka memakai seragam cheers, karena aku merasa lebih seksi bila memakai seragam itu. Seragam cheers sekolahku rok mini dengan atasan model sailor. Hmm..) Akhirnya pelajaran olah raga selesai juga, kami cewek-cewek segera ganti pakaian. Kami segera menuju ke loker ganti. Aduhh.. Penuh.. Terpaksa aku ganti di toilet. Segera aku berlari ke toilet, meskipun toilet tetapi cukup bersih dengan kloset duduk yang bersih dan mengkilat. Aku lihat toilet kosong, aku maklum karena kelas lain masih pelajaran biasa, lagipula ini toilet terjauh dari kelas-kelas, biasa digunakan oleh anak ekskul karena dekat dengan aula. Segera saja aku masuk, ketika mau aku kunci ternyata kuncinya rusak. "Ya sudah deh nggak usah dikunci aja, lagian nggak ada orang juga.." begitu pikirku. Aku mulai membuka pakaian olah ragaku, cukup susah membuka bagian atasnya, "Dadaku terlalu besar atau bajunya terlalu kecil ya?" gumanku sendiri.. Akhirnya aku berhasil juga membukanya, tetapi BH-ku menjadi berantakan, puting susuku menonjol keluar. "Aku biarkan saja dulu ah" pikirku, kemudian aku lepas celana olah raga ku. Aku melihat celana dalamku basah oleh cairan vaginaku. "Lho.. Kok aku keluar ya.. Padahal aku nggak ngapa-ngapain lho.. Pantesan putingku tegang banget.." gumanku. Segera aku ambil tissue di toilet kemudian dengan hati-hati aku bersihkan vaginaku. Saat itu posisiku membungkuk membelakangi pintu sehingga aku nggak tahu kalau pintunya terbuka. Tiba-tiba aku dipeluk dari belakang, kontan saja aku kaget. "Eh.. Eh.. Apa-apain nih.. Heeii!!" teriakku sambil membalikkan badan. Tiba-tiba mulutku dibekap dengan tangan dan aku melihat Angga. "ANGGA!!" teriakku.. Tetapi karena mulutku dibekap, suaraku bagaikan tidak keluar. Angga adalah cowok tajir yang naksir aku, rupanya dia ngikutin aku tadi. Angga kemudian membawaku ke toilet sebelah, kami masuk dan Angga mengunci pintunya, rupanya yang ini bisa dikunci, SIAL!! Rutukku dalam hati.. Tiba-tiba Angga mengeluarkan sebilah pisau dari kantongnya dan menempelkan di leherku. "Diem terus ikutin perintah gue!!" bentaknya kepadaku sambil memepetku ke tembok. Angga mengeluarkan tali kemudian mengikat kedua tanganku, aku hanya bisa diam, takut sama pisaunya. Angga melepas sepatuku dan kaus kakiku dan melemparkan ke tolilet sebelah. Tanganku diikat ke engsel pintu bagian atas hingga akhirnya tanganku tergantung ke atas, dengan begitu Angga bisa bebas melihat semua lekuk tubuhku yang setengah telanjang. "Body lu seksi Vit.. payudara lu bikin gue horny" bisik Angga di telingaku sambil memegang payudaraku. Lalu dengan pisaunya, Angga memutus tali BH ku dan tali celana dalamku. Dengan sekali tarik, aku sudah telanjang bulat di depan Angga. Angga membuang pisau ke luar toilet dan segera mendekat, langsung memegang payudaraku dan memutarnya.. "Ahh.. Duuhh.. Jangan kenceng-kenceng dong.. Sakit.." rintihku kepada Angga, rupanya dia belum pernah berhubungan seks sebelumnya, masih perjaka rupanya dia, diam-diam aku tersenyum. "Eh sorry.. Sakit ya.." dia minta maaf, bodoh banget ya? Angga kemudian membuka semua pakaiannya, sehingga dalam beberapa menit dia sudah telanjang bulat. Aku melihat penisnya sudah menegang dengan mengacung ke atas dan berdenyut-denyut. Angga mendekat dan mengusap payudaraku sambil memelintir puting susuku yang sudah tegang dari tadi. Tiba-tiba Angga menempelkan penisnya ke vaginaku, dan mendorongnya ke dalam. Karena belum berpengalaman maka Angga selalu meleset memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Karena kasihan aku buka kakiku ketika Angga mencoba untuk yang ke 4 kalinya. Penis Angga masuk ke dalam vaginaku, dan aku lihat Angga merasa surprise banget, dan Angga membuka mulutnya sembari mendesah.. "Ah.. Ah.. Ah.." desah Angga setiap mendorong penisnya ke dalam vaginaku. Aku hanya bisa diam saja. Penis Angga sudah masuk sepenuhnya dan dia mulai menggoyangkan penisnya keluar-masuk vaginaku. Aku sengaja diam saja, karena kalau aku ikut menggoyangkan pinggulku, aku percaya Angga akan langsung ejakulasi. Ternyata belum ada 10 goyangan, Angga sudah ejakulasi di vaginaku. Rupanya dia nggak bisa menahan lebih lama lagi. Cukup lama dia menancapkan penisnya di vaginaku, mungkin untuk merasakan sensasi ejakulasi yang baru saja dia alami. Aku hanya bisa tersenyum saja ketika dia menatapku saat dia mencabut penisnya. "Kok cuma sekali aja Ga?" tanyaku menantang. "Kamu masih mau lagi?" balasnya, nampaknya pertanyaan pancinganku mengena. "Masih dong, tapi aku yang kendalikan kamu, gimana?" usulku.. "Maksud loe?" tanya Angga enggak ngerti. "Lepasin talinya terus kamu ikutin apa kataku" kataku sambil tersenyum nakal. Rupanya Angga baru mengerti, dia kemudian keluar untuk mengambil pisau yang dia buang tadi, kemudian memotong tali yang mengikat tanganku. "Bersihin penis lu dulu gih" pintaku ke Angga yang kemudian segera dibersihkan dengan saputangannya. Ketika aku melihat Angga membersihkan penisnya menggunakan saputangannya, libidoku memuncak cepat hingga aku hampir tidak bisa mengendalikan diri. Tak lama kemudian dia selesai. "Duduk di kloset itu, shut up, and look me!" perintahku. Di depan Angga aku mulai menari. Menari? Ya menari, aku menari erotis di depan Angga. Aku meraba dan memuntir puting susuku kemudian memasukkan jari ke dalam vaginaku lalu aku jilat cairan vagina yang menempel di jariku, sambil tetap menari. Kemudian aku tempelkan tubuhku ke tembok lalu berlutut di lantai, kemudian sambil merangkak aku mendekati Angga, aku melihat penisnya sudah berdiri dan berdenyut-denyut. Aku bergerak mendekati penis Angga, kemudian menjilatinya, kemudian mengecupnya, sesekali aku masukkan ke dalam mulutku kemudian aku keluarkan lagi. Dengan ujung jariku aku mengusap kepala penisnya sambil kujilat lubang penisnya. Penis Angga tidak besar tapi cukup bersih. Aku melirik sambil tersenyum kepada Angga, tampaknya dia sudah hampir ejakulasi lagi. "Cepet banget sih ni anak?" pikirku. Kemudian aku kocok penisnya perlahan-lahan, sambil tetap aku jilat kepala penisnya. Aku merasakan ditanganku penis Angga mulai berdenyut-denyut, segera aku masukkan penis Angga ke dalam mulutku, kemudian aku hisap, tak sampai 3 kali hisap, Angga sudah ejakulasi lagi. Aku hisap air maninya hingga habis. Kemudian penis Angga aku siram dengan air maninya yang terkumpul di mulutku. Kemudian dengan mulut yang masih ada sisa-sisa air mani, aku berdiri dan mendekati Angga. Kemudian aku duduk di pangkuan Angga dengan menghadap ke arahnya. Aku cium bibir Angga dengan sisa-sisa air maninya sendiri. "Kenapa? Ini khan air mani kamu sendiri" protesku ketika dia mau menolak ciumanku. Aku mencium bibir Angga dengan lembut sambil kuhisap mulutnya, kemudian aku masukkan lidahku ke mulutnya, jadilah kami French kiss. Cukup lama kami berciuman, hingga Angga hampir kehabisan napas. "Sudah Vit, aku sudah capek.." pintanya kepadaku. "Apa capek? Aku padahal baru mulai.." kataku.. "Apa? Baru mulai? Padahal.." Angga mencoba protes. "Sudah diem!! Salah sendiri kamu yang mulai, sekarang ikutin kataku kalau nggak mau namamu tercemar di sini!!" ancamku kepadanya. Rupanya Angga keder juga dengan ancamanku. Bersambung . . . .

Selasa, 24 Maret 2015

Kisah jejaka windhu

"Heehh..!" Windu menghela nafas panjang. Gontai melangkah menelusuri trotoar sepanjang jalan By-pass di depan Jayabaya. Langit bertambah gelap, yang tersisa hanya guratan jingga di ufuk barat. "Belum pernah beginian yah..? Wah, masih perjaka doong..? Tenang mas, pelan-pelan saja.. Jangan gugup gitu ahh.." masih teringat kata-kata wanita di panti pijat tadi, dengan senyum yang menggoda tapi ditafsirkannya sebagai sindiran. "Hei, cowok..!" Windu terkejut mencari sumber suara yang terdengar aneh itu. Sesosok tubuh tinggi semampai sedang berdiri di dekat halte sambil tersenyum padanya. "Ditemenin yuk..!" sosok tinggi bak peragawati itu mengedipkan mata. "Bangsat! Bencong!" makinya. "Heii.. cakep.. ayoo doong.. Suka nyepong kan?" Windu mempercepat langkahnya sambil terus memaki dalam hati. Suara aneh itu masih terus memanggil. Kini ia mulai tertawa terbahak-bahak. Tawa yang juga ditafsirkannya sebagai ledekan atas apa yang baru saja dilakukannya. Lari! Ia lari meninggalkan seorang wanita pemijat yang sedang tergolek telanjang bulat di atas dipan di sebuah panti pijat di kawasan Jakarta Timur. Peristiwa itu berulang kembali di benaknya, bak film-film BF yang bosan ditontonnya. Episode 1: Malam Keparat "Malam pak.. Belum pernah ke sini yah?" resepsionis di panti pijat itu tersenyum pada Windu yang masih agak kikuk. Mau keluar, malu. Sudah terlanjur ada di dalam. "AC atau biasa?" wanita setengah baya itu kembali bertanya. "Ehmm.. AC boleh.." Windu memberat-beratkan suaranya agar terdengar berwibawa. Tapi yang keluar justru suara gemetar. "Silakan pak.." si resepsionis itu berjalan ke arah dalam ruangan, Windu mengikuti dari belakang, menelusuri lorong yang diterangi lampu temaram. Kiri kanan terlihat kamar-kamar yang hanya ditutupi selembar hordeng yang warnanya tidak jelas. Di depan sejumlah kamar ada sepasang selop menggeletak. Mereka sampai di ujung lorong. Di sebelah kanan ada tangga kayu yang menuju ke atas, sementara di dekat anak tangga, sejumlah wanita dengan dandanan menor sedang duduk sambil ngobrol. Obrolan mereka terhenti saat Windu dan si resepsionis melewati mereka dan berbelok menaiki tangga kayu. "Wi.. buat aku doong!" beberapa di antara mereka menegur si resepsionis yang ternyata bernama Dewi. Windu hanya tersenyum kaku sambil terus naik ke atas tangga, berbelok ke kiri menuju deretan kamar berpintu. Dewi, si resepsionis membuka salah satu pintu, menyalakan lampu dan AC yang bunyinya sudah seperti mesin diesel. Windu berdiri kikuk di depan pintu. "Sempat lihat yang duduk-duduk tadi, pak? Mungkin ada yang ditaksir, atau mau saya pilihkan saja?" tawar Dewi. Dewi mendekati ujung tangga, matanya melirik ke bawah lalu melihat ke arah Windu. "Itu Wiwit, anak Malang. Baru sebulan di sini. Kalau yang lagi merokok itu sudah senior. Namanya Nani. Pijitannya terkenal enak. Kalau mau servis ekstra langsung ke mereka. Bisa tawar-tawaran kok, pak..! Nah, yang itu, Titi, anak Sukabumi.. Kalau untuk servis ekstra, Titi ini jagonya. Pijatannya juga oke punya." Dewi nyerocos mempromosikan wanita-wanita yang sedang ngobrol di bawah. "Yang bagus deh.. " Windu berucap pelan. "Kalau begitu, bapak masuk dulu, rileks saja, nanti saya suruh si.. emm.. bagaimana kalau Titi. Dijamin oke. Kalau tidak puas, jangan kesini lagi deh pak!" si resepsionis tersenyum sambil menuruni tangga. Windu masuk ke kamar berukuran sekitar 2x3 meter itu lalu duduk di atas tempat tidur. Dadanya berdetak keras. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Kacamata minusnya mulai berembun. Hembusan AC tidak mampu mengusir kegelisahannya. Episode 2: Si Mungil "Malam, oom!" sosok mungil berambut pendek itu sudah berdiri di depan pintu, mengejutkan Windu yang masih berusaha menenangkan diri. "Panggil saya Titi. Oom siapa..?" si tubuh mungil itu melangkah dan duduk di kursi depan tempat tidur. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu meraih asbak dari bawah kursi. "Ehmm.. Win.. eh, Wawan..!" jawab Windu. Windu terkesima melihat tubuh mungil yang duduk di depannya itu. Dari wajahnya, Windu menaksir usianya yang paling baru sekitar 18-an. "Mau langsung pijit..? Atau mau ngobrol dulu, atau mau yang lain, terserah si oom deh!" si mungil itu mulai menyalakan rokok Sampurna hijaunya. Ia menghembuskan asap rokok ke arah Windu sambil menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya. Paha putih mulusnya tersembul dari balik rok pendek warna coklat yang dipakainya. "Langsung boleh!" Windu berusaha mengendalikan kegelisahannya. "Oke! Bajunya lepas doong!" si mungil mematikan rokok di asbak, melepas blus coklatnya dan mengantungkannya di belakang pintu. Gerendel di pintu dipasangnya lalu ia melangkah ke arah washtafel dan mulai mencuci tangan. Dada Windu tambah berdebar tidak menentu. Saat seperti itu akhirnya tiba juga. Akhirnya ia akan merasakan tubuh seorang wanita yang selama ini cuma bisa dilihatnya di film-film sambil ngeloco alias bermasturbasi. Tapi lama-lama ia penasaran juga. Dari mailing list di internet, Windu mendapatkan alamat beberapa tempat di mana ia bisa melepaskan kelajangannya. Dari mailing list itu juga ia tahu soal tarif dan tempat yang paling bagus. Setelah berkali-kali berpikir panjang, dengan bermodalkan uang satu juta kiriman ayahnya yang tuan tanah di kampung, kali ini Windu memberanikan dirinya. Alasannya akan dipakai les komputer. Akhirnya ia memberanikan diri untuk datang ke salah satu tempat yang direkomendasikan seorang pengirim mailing list. Dan kini ia tengah berada di hadapan seorang wanita mungil, menggunakan rok pendek dan baju tanpa lengan, tipis berwarna putih. Sayup di balik baju tipis itu ia melihat dua titik hitam berseberangan. "Bangsat! Si mungil ternyata tidak pakai BH." dalam hati. Debaran di dada Windu semakin tidak menentu. Ia melepas kemeja dan celana panjangnya, lalu duduk di pinggir tempat tidur dengan hanya bercelana pendek sambil berusaha mengatur dirinya agar tidak nampak grogi. Si mungil mengambil lotion di rak sebelah atas washtafel lalu berbalik ke arah Windu. "Baru pertama kali yah, Oom..! Tenang aja deh.. Engga usah grogi gitu..!" si mungil tersenyum. "Asu! Ketahuan juga!" Windu mengumpat dalam hati. Ia tidak ingat lagi apakah ia mulai terangsang atau tidak. Yang dipikirkannya cuma bagaimana ia menguasai diri. Dalam hitungan sepersekian detik, wajah ibunya di kampung berkelebat di kepalanya. Ibu yang rajin menasehati untuk rajin belajar, rajin sholat dan jauhi berzinah. "Ah, persetan..! persetan!" dalam hati Windu. Windu berbaring menelungkup di ranjang berlapis seprei putih yang masih bau pewangi. Kepalanya ditelungkupkan di atas bantal, sambil terus berusaha menahan debaran jantungnya yang tambah tidak menentu. Apalagi saat sepasang tangan halus mulai menyentuh punggungnya dan mulai memijat perlahan. "Wah, si Oom tegang bener.. Tenang Oom.. Habis dipijat, dijamin tegangnya hilang. Paling jadi tegang yang lain.." si mungil mulai nakal dengan ucapannya, sambil memperkeras pijatannya di punggung Windu. Sesekali ia menambahkan lotion. "Wah, hebat juga si mungil ini.." Windu mulai bisa menikmati pijatan di punggungnya. Suasana ruangan senyap. Yang terdengar hanya deruman AC dan derikan tempat tidur. Sesekali si mungil nyeletuk dengan kata-kata nakalnya. "Celananya, Titi lepas yah mas.. Nanti kotor lho kena lotion!" "Mas.. ia memanggil mas..!" dalam hati Windu. Entah mengapa panggilan "mas" itu membuatnya terangsang. Perlahan si mungil menarik turun celana pendek yang dipakai Windu. "Pinggulnya angkat dulu dong, mas..! Ihh males nih!" ia merasakan pantatnya dicubit. Windu menurut. Isi kepalanya sudah penuh dengan berbagai pikiran yang paling jorok. Celana pendeknya tersangkut sesuatu benda kenyal yang mulai menegang. Dengan sekali sentak, si mungil akhirnya berhasil melepasnya dan melemparkan celana itu ke kursi. "Nah, kan begini lebih enak.. Iiihh pantatnya bohay juga!" si mungil menepuk pantat Windu. Dengan santai si mungil naik ke ranjang dan duduk di atas pantat Windu dan melanjutkan memijat. Beberapa tetes keringat jatuh di punggungnya. Dadanya kembali berdebar keras saat pantatnya merasakan gesekan sesuatu benda kasar di selangkangan si mungil. "Kapan dia buka celana dalamnya?" Windu yakin si mungil tak bercelana dalam. Gesekan itu terus bergerak turun hingga ke paha, saat si mungil bergerak. Windu merasakan batang kemaluannya menegang keras. Tidak terasa sudah setengah jam lebih pijatan itu berlangsung dari punggung sampai ke kaki. "Mas kok diam aja sih.. Engga enak yah pijatan Titi?" si mungil berbisik menunduk dan berbisik di telinga Windu. Sepasang benda kenyal menempel di punggungnya. "Enak.. enak kok..! Lagi nikmatin aja..!" Windu menjawab sekenanya. "Mau yang lebih enak? Tapi kena bayar ekstra lho.." tiba-tiba tangan mungil itu sudah menelusup di antara selangkangan Windu dan menyambar batang kemaluan Windu yang sudah sangat menegang. Tanpa menunggu jawaban Windu, tangan yang masih belepotan lotion itu mulai mengurut batang kemaluan Windu yang terjepit himpitan tubuhnya. Windu mengangkat pinggulnya agar si mungil lebih leluasa mengurut benda keramat itu. "Mau yah, mas.. dijamin deh.."Dada Windu kembali berdebar tidak menentu. Tangan kanan si mungil terus mengurut sementara tangan kirinya mulai membuka belahan pantat Windu. Dan tiba-tiba jempol kiri si mungil mulai mendesak masuk ke lubang pantat, sementara tangan kanannya bertambah keras meremas dan memijat batang kemaluan Windu yang sudah tidak menentu kerasnya. Rasanya luar biasa. Baru kali ini batang kemaluan itu merasakan sentuhan tangan lain, selain tangannya. Ia merasa di awang-awang. Sesuatu mulai terasa mendesak ingin keluar dari dalam dirinya. "Pegel ah Mas tangan Titi.. Sini balik badannya.." Windu menurut. Ia membalikkan badan dan telentang di atas ranjang. Tubuh kedua orang itu bermandikan keringat. Dengan sigap si mungil kini duduk di atas perut Windu lalu mulai menunduk menciumi dadanya yang bidang. "Mas badannya bagus.. Titi jadi terangsang nih!" si mungil mulai mendesah. Gesekan aneh itu kini terasa di perut dan mulai menurun ke arah bawah, semakin ke bawah, terus. Windu menahan nafas. Debaran di dadanya kini terasa sangat cepat, apalagi saat ia merasakan gesekan kasar bercampur cairan hangat di batang kemaluannya. Akhirnya saat itu tiba juga. Nafsunya bercampur rasa gugup. Mukanya memerah. Si mungil menghentikan gerakan pinggulnya dan menatap wajah Windu. "Mas belum pernah beginian yah..? Wah, masih perjaka doong..? Tenang mas, pelan-pelan saja.. Jangan gugup gitu ahh.." si mungil tersenyum. Perlahan ia bangkit dari tempat tidur lalu mengambil sesuatu dari tasnya. "Pertama, kita pakai ini dulu. Biar aman..!" dengan cekatan, si mungil menyobek bungkusan kecil itu dan mengeluarkan sebuah benda berwarna merah jambu dari dalamnya. Kondom! "Sini Titi pasangin yah mas" dimasukkannya kondom yang masih tergulung itu di mulutnya dan langsung berjongkok di pinggir tempat tidur. Ia melirik sejenak, tersenyum, lalu langsung memasukkan mulutnya ke batang kemaluan Windu dan mengulumnya. "Ah!" sejenak Windu terpekik merasakan kehangatan mulut si mungil di batang kemaluannya, apalagi saat mulut itu mulai mengulum. Terasa batang kemaluannya mulai terjepit oleh benda aneh yang terasa pas sekali. Si mungil masih meneruskan mengulum dan ketika ia mencabut kulumannya, batang kemaluan besar Windu sudah terbungkus kondom. "Seperti inikah rasanya menggunakan kondom?" dalam hati Windu. Ia memegang batang kemaluannya yang nampak aneh terbungkus karet berwarna pink itu. "Eit.. jangan dipegang dong. Inikan urusan Titi..! Mas Wawan rileks aja.." Si mungil kini menanggalkan baju putih tipisnya, lalu roknya. Di hadapan Windu kini berdiri sesosok tubuh telanjang. Payudara si mungil ternyata tak semungil tubuhnya. Kedua benda bulat itu benar-benar ekstra besar dan menggantung. Jantungnya terasa mau copot melihat pemandangan indah itu. Tubuhnya terbujur kaku, batang kemaluannya yang terbungkus karet berdenyut-denyut tidak menentu. Si mungil kembali naik ke tempat tidur. Ia duduk di atas dada Windu sedemikian rupa sehingga di hadapannya kini terpampang jelas rimbunan hitam yang terbelah di tengahnya menampakkan sebentuk daging berwarna kemerahan. Benda itu memancarkan bau aneh yang sangat merangsang. Si mungil memasukkan jarinya ke sela-selau benda itu, menggosok-gosoknya sambil mengerang pelan. Perasaan Windu campur aduk. Benda yang selama ini cuma dilihatnya dari majalah dan video porno sekarang terpampang jelas hanya beberapa senti meter dari mukanya yang bertambah merah. Si mungil mulai bergerak turun sambil membungkuk menciumi telinga, leher, dada, terus ke perut Windu. Payudaranya berayun-ayun mengikuti gerakan tubuhnya. Windu menahan nafas menanti detik-detik di saat akhirnya benda itu akan tiba di tujuan. Tubuh mungil itu kini duduk mengangkang di antara pinggul Windu. "Oke, mas.. rileks aja.. Kita mulai yah.." pinggulnya digerak-gerakkan dan sesekali menyentuh batang kemaluan Windu yang sangat mengeras. Ia mulai menurunkan pinggulnya ke bawah mencari batang kemaluan Windu dan siap menelannya. Begitu dirasakannya sudah berada di posisi yang pas, si mungil menekan pinggulnya ke bawah dengan keras. Windu menahan nafas. Wajah ibunya yang selalu penuh nasehat berkelebat di kepalanya lalu berganti dengan wajah ayahnya yang berhasil ditipu untuk mengirimkan uang dengan alasan les komputer, lalu berganti lagi dengan wajah nakal si mungil. "Ahh!" batang kemaluan Windu melejit ke arah samping, lolos dari terkaman mulut bagian bawah si mungil. Kembali ia bangkit, tangannya mencari-cari batang kemaluan Windu di bawah selangkangannya, menegakkannya sehingga pas berada di liang kewanitaannya. Ia melirik sebentar ke arah Windu yang nampak sangat tegang, tersenyum nakal, dan kembali menekan pinggulnya. "Mmhh.. ahh!! Bandel nih..!!" batang kemaluan Windu kembali melejit ke samping. Kelebatan wajah ibu dan ayahnya kembali muncul. Windu memejamkan mata berusaha mengusir wajah kedua orang itu. Si mungil meraih lagi batang kemaluan Windu dan mengarahkannya di posisi yang pas dan kembali menekan pinggulnya. "Lho, kok mulai kendor..! Jangan tegang dong, mas.. Santai aja." Windu tidak tahu harus berkata apa. Dalam hitungan detik saja ia mendapati batang kemaluannya sudah melemas. Wajah Windu pucat pasi. "Emm, aku mau ke kamar mandi sebentar..!" Windu menggeser tubuh telanjangnya sehingga mau tak mau si mungil bergerak ke samping membiarkan Windu bangkit dari tempat tidur. "Jangan lama-lama yah.. Tenang saja, mas.. masih banyak waktu." mata si mungil mengikuti tubuh telanjang Windu yang bergerak gontai ke arah kamar mandi. Rasa simpatinya mulai muncul melihat Windu yang serba kikuk. Belum pernah ia menemui pelanggan yang seperti ini. Di kamar mandi, Windu terduduk di atas kloset. Kondom yang dipakainya terjatuh ke lantai kamar mandi, karena batang kemaluan yang sudah kembali menciut. Dicobanya meremas-remas, tetapi tidak ada pengaruhnya. Benda itu malah tambah menciut. Windu terduduk lemas dengan wajah pucat pasi. Tidak dihiraukannya suara panggilan si mungil dari dalam kamar. "Kenapa aku?" dibenaknya mengalir seribu tanya. Ia keluar dari kamar mandi, dan mendapati si mungil masih tergeletak telanjang bulat di atas tempat tidur. Secepatnya ia meraih semua pakaian dan mengenakannya kembali. Tak dihiraukannya serbuan pertanyaan si mungil. Windu cuma ingin keluar secepatnya dari tempat itu. Di depan, kembali ia bertemu dengan Dewi si resepsionis. "Sudah, pak..?" pertanyaan Dewi tidak digubris. Dikeluarkannya uang satu juta keparat itu dari kantongnya lalu diserahkan kepada Dewi, dan secepatnya keluar. Beberapa orang yang sedang duduk di ruang tamu dibuat terheran-heran. Ada yang berbisik-bisik sambil tertawa. Semuanya tak digubrisnya. Ia terus berjalan dan berjalan menjauh dari rumah keparat itu. "Kenapa?" pertanyaan itu terus mengalir tidak henti-henti di kepalanya. Ia berjalan secepat mungkin, setengah berlari, sampai akhirnya lelah sendiri. Lampu-lampu jalanan sepanjang Bypass mulai menyala seolah menyoroti dirinya. Windu menunduk. Ia berjalan gontai. Berjalan dan terus berjalan. Epilogue: Bangsaatt! Dengan tubuh penuh keringat, Windu memasuki kamar kosnya. Tak dihiraukan panggilan teman-temannya yang sedang nongkrong di warung indomie depan kos-kosannya. Ia cuma ingin sendiri. "Kenapa..?" pertanyaan itu terus menembaki kepalanya sampai pusing. Ia melepas seluruh pakaiannya dan memandangi batang kemaluannya. Ia terduduk di pinggir tempat tidurnya yang penuh dengan majalah porno. Pelan-pelan ia mulai meremas benda kecil itu. Pikirannya melayang ke si mungil yang mungkin masih tidur telanjang di panti pijat tadi. Dibayangkannya payudara yang berayun-ayun di depan matanya, belahan liang kewanitaannya yang kemerahan dan basah, desahan nafasnya, tetesan keringat di dadanya. Windu meremas dan mengocok, tidak dirasakannya batang kemaluan keparat itu sudah menegang sekeras-kerasnya. Yang ada di kepalanya hanya si mungil yang telanjang bulat, di sela-sela pertanyaan mengapa yang terus memenuhi kepalanya. Ia terus meremas, mengocok, meremas. Sesuatu terasa mendesak keluar dari dalam tubuhnya. Nafasnya mendesah. Windu terus mengocok dan meremas sekuat tenaga. Semakin cepat, semakin keras. Terus mengocok dan meremas. Tubuhnya menegang. Matanya memerah, air matanya mulai menetes. Langit semakin gelap, malam semakin sepi. Di sela-sela dengkuran anak-anak kos yang berbaur dengan orkes nyanyian serangga malam, terdengar teriakan desahan bercampur tangisan dari kamar Windu. Desahan yang semakin lama semakin keras dan akhirnya berubah menjadi teriakan memecah malam. "Bangsaatt!!" Tubuh telanjang Windu yang bermandikan keringat terbujur di lantai kamarnya. Cairan putih berceceran di sekujur lantai di sekitarnya. Tangannya masih mengenggam batang kemaluan keparat itu. Nafasnya masih memburu, di sela-sela isak tangisnya. Tidak didengarnya ketukan di pintu yang berulang-ulang memanggil namanya dengan nada penuh kekhawatiran. Ia menangis dan terus menangis.

Senin, 23 Maret 2015

Ranting patah 2

"Febi, jangan", teriakku. Tapi terlambat, penisku sudah meluncur masuk ke vagina keponakanku tanpa kondom, sudah terjadi, ada rasa sesal meskipun sedikit sekali. Tapi rasa sesal segera berubah menjadi heran karena begitu mudahnya penisku menerobos liang vaginanya, tidak seperti Desi yang cukup sempit dan kesakitan, tapi Febi sepertinya tidak ada rasa sakit sama sekali ketika vaginanya terisi penisku yang berukuran 17 cm itu. Bahkan dia langsung mengocok dan menggoyang dengan cepatnya seolah tak ada halangan dengan ukuran penisku seperti yang dialami Desi. Goyangan pinggul Febi lebih nikmat dari Desi tapi sepertinya vagina Febi tidak sesempit Desi, tidak ada kurasakan remasan dan cengkeraman otot dari vaginanya, hanya keluar masuk dan gesekan seperti biasa, dalam hal ini vagina Desi lebih nikmat, itulah perbedaan antara Desi dan Febi, meskipun keduanya sama sama nikmat. Desi turun dari mukaku, kuraih buah dada montok Febi dan kuremas remas gemas penuh nafsu, kutarik Febi dalam pelukanku, kukocok dari bawah dengan cepatnya, desahannya begitu bergairah di telingaku. "Oh.. yess.. enak banget Om truss.. Febi kaangeen.. Febi cemburuu.. Febi sayang Om.. udah lama Febi menunggu kesempatan ini" desahnya. Aku kaget ternyata disamping cinta seorang keponakan dia juga menyimpan cinta layaknya seorang gadis pada lawan jenisnya. Kami bergulingan, kini aku di atasnya, kunikmati ekspresi kenikmatan wajah cantik keponakanku yang sedang dilanda birahi tinggi, desahannya makin keras dan liar, rasanya lebih liar dari yang kulihat tadi siang membuatku makin bernafsu mengocok lebih cepat dan lebih keras. Dengan gemas kuciumi pipi Febi, tidak dengan perasaan kasih sayang seperti biasanya tapi penuh dengan perasaan nafsu, kususuri leher jenjangnya yang putih mulus, baru sekarang kusadari betapa menggairahkan tubuh keponakanku ini. Febi menggelinjang dan menjerit ketika lidahku mencapai puncak buah dadanya, kupermainkan putingnya yang kemerahan, dengan kuluman ringan kusedot buah dadanya, itulah yang membuat dia menggelinjang hebat penuh nikmat. Desi memelukku dari belakang, diciuminya tengkuk dan punggungku, dalam keadaan normal bercinta dengan dua wanita cantik tentulah menyenangkan tapi ini keadaan khusus dimana pertama kali aku mencumbu keponakanku tercinta, aku ingin menikmatinya secara total, keterlibatan Desi sebenarnya kurasakan mengganggu tapi aku tak bisa menyuruhnya pergi, karena dialah aku bisa menikmati tubuh sexy Febi. Tanpa menghiraukan pelukan Desi, kuangkat kedua kaki Febi kepundakku, dengan meremas kedua buah dadanya sebagai pegangan aku mengocoknya keras dan cepat. Febi menjerit keras antara sakit dan nikmat, kepala penisku serasa menyentuh dinding terdalam dari vaginanya, tangannya mencengkeram erat lenganku, matanya melotot ke arahku seakan tak percaya aku melakukan ini padanya, tapi sorot matanya justru menambah tinggi nafsuku, dia kelihatan makin cantik dengan wajah yang bersemu merah terbakar nafsu, lebih menggairahkan dan menggoda, makin dia melotot makin cepat kocokanku, makin keras pula jerit dan desah kenikmatannya. Dan tak lama kemudian dia sampai pada puncak kenikmatan tertinggi. "Truss.. Om.. Febi mau keluar ya.. truss.. fuck me harder" dia mendesis indah, dan dengan diiringi jeritan kenikmatan panjang dia menggoyang goyangkan kepalanya, cengkeraman di lenganku makin erat, tubuhnya menegang, dia telah mencapai orgasme lebih dulu, kunikmati saat saat orgasme yang dialami Febi. Inilah pertama kali aku melihat ekspresi orgasme dari keponakanku yang cantik, begitu liar dan menggairahkan, sungguh tak kalah dengan tantenya, istriku. Tubuh Febi perlahan mulai melemah, kuturunkan kakinya dari pundakku lalu kukecup bibir dan keningnya. "Makasih Om, ini orgasme terindah yang pernah kualami, nanti lagi ya, aku ingin merasakan Om keluar di dalam" katanya mendorong tubuhku turun dari atas tubuhnya. Desi sudah sampingnya bersiap menerimaku, posisi menungging dengan kaki dibuka lebar, penisku yang masih tegang siap untuk masuk ke vagina lainnya. Rupanya Desi tak pernah melupakan pengamannya, dia memberiku kondom sebelum penisku sempat menyentuh bibir vaginanya, sementara Febi tak peduli dengan hal itu, aku tak khawatir karena memang tidak berniat memuntahkan spermaku di vagina keponakanku. Febi memasangkan kondom di penisku dan kembali untuk kesekian kalinya penisku menguak celah sempit di antara kaki Desi, sungguh sempit, meski udah beberapa kali kumasuki tapi masih tetap saja terasa mencengkeram pada mulanya. Berbeda dengan punya Febi yang langsung bisa "melahap" semuanya, Desi meringis sebentar saat penisku kudorong menguak vaginanya, cukup lama sebelum akhirnya aku bisa mengocoknya dengan normal, sesekali hentakan keras menghunjam membuatnya teriak entah sakit atau enak. Kupegangi pantatnya yang padat berisi, kocokanku makin cepat, desahan Desi begitu juga makin keras terdengar, kuraih buah dadanya yang menggantung dan kuremas sambil tetap mengocoknya. Terus terang setelah merasakan nikmatnya bercinta dengan keponakanku, terasa Desi begitu hambar, padahal saat pertama tadi dia begitu menggairahkan, kini aku hanya berusaha untuk memuaskan dia sebagai balas jasa dan secepat mungkin mencapai orgasme dengannya supaya berikutnya aku bisa lebih "all out" dengan Febi. Kocokan kerasku membawa Desi lebih cepat ke puncak kenikmatan, tangan Desi dan Febi saling meremas, teriakan orgasme Desi mengagetkanku, apalagi diiringi dengan denyutan dan remasan kuat dari vaginanya, penisku seperti diremas remas, sungguh nikmat yang tak bisa kudapat dari Febi, akhirnya akupun harus takluk pada kenikmatan cengkeraman vagina Desi, menyemprotlah spermaku di dalam vaginanya. Kembali dia menjerit merasakan denyut kenikmatan penisku, kami saling memberi denyutan nikmat, lebih nikmat dari yang kudapat tadi. Tubuhku langsung ambruk di atas punggun Desi, kami bertiga telentang dalam kenangan dan kenikmatan indah. Aku telentang di antara dua gadis cantik yang menggairahkan, Desi melepas kondom, sungguh tak menyangka kalau aku akhirnya bercinta dengan keponakanku sendiri yang sangat sexy dan menggairahkan. Diusianya yang belum 23 tahun dia terlalu pintar bermain sex apalagi permainan oralnya, sungguh sukar dipercaya kalau dia mampu melakukannya dengan sangat baik. Setelah kudesak akhirnya dia mengakui bahwa dia sudah sering melakukannya sejak setahun yang lalu. Pertama kali yang menikmati keperawanannya adalah P. Freddy, dosennya sendiri, seorang duda berumur hampir 50 tahun, orangnya jauh dari simpatik, justru lebih mendekati sadis, karena wajahnya tipikal orang maluku yang keras. Untuk mendapatkan nilai lulus dari dia akhirnya Febi harus menyerahkan keperawanannya, kalau tidak dia tidak akan bisa melewati tahap persiapan yang berakibat Drop Out. Dengan perasaan jijik Febi menyerahkan kehangatan dan kesuciannya pada si tua bangka, seminggu sekali dia terpaksa harus melayani nafsu bejat si dosen, setelah berjalan dua bulan dan merasakan nikmatnya bercinta akhirnya keterpaksaan itu berubah menjadi ketergantungan, bukan lagi P. Fredy yang memaksa tapi terkadang justru Febi yang minta karena dia tidak mungkin melakukannya dengan orang lain. Hingga akhirnya dia menemukan teman kuliah pujaan hati, tapi begitu sampai ke urusan sex ternyata Febi masih tidak bisa melupakan keperkasaan P. Fredy, jadi dia tetap melakukannya dengan si dosen untuk mendapatkan kepuasan, pacarnya tidak pernah memperlakukan Febi seperti yang dilakukan P. Fredy, perlakuannya begitu sabar dan kebapakan dan dia selalu memenuhi apa yang Febi inginkan, tak pernah memaksa dan selalu sopan di ranjang, begitu romantis hingga Febi makin terhanyut dalam pesona si dosen, dari keterpaksaan menjadi ketergantungan. Semua berakhir setelah P. Fredy mendapat Profesor dan promosi dipindah tugas ke Ujung Pandang. Untuk memenuhi ketergantungannya Febi sering melakukannya dengan pacarnya, tapi sosok permainan sex seperti P. Fredy tak pernah dia dapatkan dari sang pacar. Entah sudah berapa kali dia ganti pacar, tak pernah lebih dari 3 bulan mereka pacaran, selalu diawali dan diakhiri di ranjang. Cerita Febi sungguh mengagetkanku, rupanya selama ini aku dan istriku terlalu memandang enteng masalah yang dihadapi Febi, tak pernah memberi solusi yang kondusif, kini baru kusadari hal itu. Istriku pernah cerita kalau Febi ingin mendapatkan suami seperti Om-nya, aku, sabar penuh pengertian dan kebapakan, hal yang tidak pernah dia terima dari ayah kandungnya. Diam diam dia mengagumiku, aku tak menyangka kalau kekagumannya ternyata lebih jauh dari sekedar seorang Om. "Om Febi cemburu sekali ketika melihat Om sama Mbak Lily bercinta, begitu penuh perasaan dan gairah" katanya sambil kepalanya disandarkan di dadaku. "Oh ya? kapan dan dimana" tanyaku kaget "Di rumah, ketika direnovasi, hampir tiap kali aku mendengar desahan dari Mbak Lily aku naik dan mengintip dari celah celah bangunan yang belum selesai itu, setelah itu aku tak bisa tidur sampai pagi, sejak itu aku bertekad untuk bisa merasakan nikmat seperti itu dari Om, bahkan aku ingin lebih dari itu" katanya. Berarti sejak dia kelas 3 SMA dia sudah melihat kami berhubungan. Mendengar penuturan Febi gairahku kembali naik, penisku menegang dalam genggaman Febi, Desi tertidur di samping kami, mungkin kelelahan setelah mendapat 2 kali orgasme berurutan dariku. "Di sofa yuk Om, Febi udah lama nggak bermain di sofa sejak terakhir kali dengan P. Fredy" ajaknya seraya bangun dan menarikku. Febi langsung duduk di sofa dan membuka kakinya, aku tak mau langsung melakukannya, kucium bibirnya lalu turun ke leher dan berhenti di kedua bukitnya, dengan gemas kuciumi bukit di dadanya, kombinasi jilatan dan kuluman membuat dia mendesah. Sengaja kutinggalkan beberapa bekas kemerahan di buah dadanya supaya dia berhenti melakukan dengan pacarnya untuk beberapa hari. Dia cemberut ketika tahu ada kemerahan di dadanya tapi justru kecemberutannya makin menambah kecantikan wajahnya. Bibirku menyusuri perutnya lalu berhenti di selangkangannya, terasa asin ketika lidahku menyentuh vaginanya, mungkin cairan ketika dia orgasme tadi. Tangannya meremas rambutku ketika lidahku menari nari di bibir vaginanya, kakinya menjepit kepalaku, aku makin bergairah mempermainkan vaginanya dengan bibirku. "Udah.. udah.. Om.. sekarang.. Febi udah nggak tahan nih" desahnya menarik rambutku. Aku berdiri, kusodorkan penisku ke mulutnya, dia menggenggam dan mengocoknya, memandang ke arahku sejenak sebelum menjilati dan memasukkan penisku ke mulutnya. Tanpa kesulitan, segera penisku meluncur keluar masuk mulut mungil keponakanku yang cantik, kembali kurasakan begitu pintar dia memainkan lidahnya. Antara jilatan, kuluman dan kocokan membuatku mulai melayang tinggi. Puas dengan permainan oral-nya, aku lalu jongkok di depannya, dia menyapukan penisku ke vaginanya, dia menatapku dengan pandangan penuh gairah, aku jadi agak malu memandangnya, namun nafsu lebih berkuasa, dengan sekali dorong melesaklah penisku kembali ke vaginanya, dia masih tetap menatapku ketika aku mulai mengocoknya. Kakinya menjepit pinggangku, kutarik dia dalam pelukanku, kudekap erat hingga kami menyatu dalam suatu ikatan kenikmatan birahi, saling cium, saling lumat. Febi mendesah liar seperti sebelumnya, kurebahkan dia di sofa lalu kutindih, satu kaki menggantung dan kaki satunya dipundakku. Aku tak pernah bosan menikmati ekspresi wajah innocent yang memerah penuh birahi, makin menggemaskan. Buah dadanya bergoyang keras ketika aku mengocoknya, dia memegangi dan meremasnya sendiri. Kuputar tubuhnya untuk posisi doggie, dia tersenyum, tanpa membuang waktu kulesakkan penisku dari belakang, dia menjerit dan mendorong tubuhku menjauh, kuhentikan gerakanku sejenak lalu mengocoknya perlahan, tak ada penolakan. Kupegang pantatnya yang padat berisi, Febi melawan gerakan kocokanku, kami saling mengocok, dia begitu mahir mempermainkan lawan bercintanya. Aku bisa melihat penisku keluar masuk vagina keponakanku, kupermainkan jari tanganku di lubang anusnya, dia menggeliat ke-gelian sambil menoleh ke arahku. Kuraih buah dadanya yang menggantung dan bergoyang indah, kuremas dengan gemas dan kupermainkan putingnya. Aku sepertinya benar benar menikmati tubuh indah keponakanku dengan berbagai caraku sendiri, ada rasa dendam tersendiri di hatiku, kalau orang lain telah menikmatinya, aku sebagai orang yang membesarkannya tentu ingin menikmatinya lebih dari lainnya, tak ada yang lebih berhak dari aku. Kuraih tangannya dan kutarik kebelakang, dengan tangannya tertahan tanganku, tubuh Febi menggantung, aku lebih bebas melesakkan penisku sedalam mungkin. Desah kenikmatan Febi mekin keras memenuhi kamar ini. Kudekap tubuhnya dari belakang, kuremas kembali buah dadanya, penisku masih menancap di vaginanya, kuciumi telinga dan tengkuknya, geliat nikmat Febi makin liar. "Aduh oom.. enak banget Omm, Febi sukaa, trus Om" Kulepaskan tubuh Febi, kambali kami bercinta dengan doggie style, tak terasa lebih setengah jam kami bercinta, belum ada tanda tanda orgasme diantara kami. Kami berganti posisi, Febi sudah di pangkuanku, tubuhnya turun naik mengocokku, buah dadanya berayun ayun di mukaku, segera kukulum dan kusedot dengan penuh gairah hingga kepalaku terbenam diantara kedua bukitnya. Gerakan Febi berubah menjadi goyangan pinggul, berputar menari hula hop di pangkuanku, berulang kali dia menciumiku dengan gemas, sungguh tak pernah terbayangkan kalau akhirnya aku bisa saling mengulum dengannya. Tak lama kemudian, tiba tiba Febi menghentikan gerakannya, dia juga memintaku untuk diam. "Sebentar Om, Febi nggak mau keluar sekarang, masih banyak yang kuharapkan dari Om" katanya sambil lebih membenamkan kepalaku di antara kedua bukitnya, aku hampir tak bisa napas. "Kamu turun dulu" pintaku "Tapi Om, Febi kan belum" protesnya "Udahlah percaya Om" potongku Kutuntun dan kuputar tubuhnya menghadap dinding, kubungkukkan sedikit lalu kusapukan penisku ke vaginanya dari belakang, Febi mengerti maksudku, kakinya dibuka lebih lebar, mempermudah aku melesakkan penisku. Tubuhnya makin condong ke depan, desah kenikmatan mengiringi masuknya penisku mengisi vaginanya. "ss.. aduuh Om, enak Om.. belum pernah aku.. aauu" desahnya sambil membalas gerakanku dengan goyangan pinggulnya yang montok. Kami saling bergoyang pinggul, saling memberi kenikmatan sementara tanganku menggerayangi dan meremas buah dadanya. Nikmat sekali goyangan Febi, lebih nikmat dari sebelumnya, berulang kali dia menoleh memandangku dengan sorot mata penuh kepuasan, mungkin dia belum pernah melakukan dengan posisi seperti ini. Tubuhnya makin lama makin membungkuk hingga tangannya sudah tertumpu meja sebelah. Kudorong sekalian hingga dia telungkup di atasnya, aku tetap masih mengocoknya dari belakang, dia menaikkan satu kakinya di pinggiran meja, penisku melesak makin dalam, kocokanku makin keras, sekeras desah kenikmatannya. Kubalikkan tubuhnya, dia telentang di atas meja, kunaikkan satu kakinya di pundakku, kukocok dengan cepat dan sedalam mungkin. "ss.. eegghh.. udaahh oom, Febi nggaak kuaat, mau keluar niih" desahnya "Sama Om juga" "Kita sama sama, keluarin di dalam saja, aman kok, Febi pake pil, jangan ku.. aa.. sshhiit" belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya ternyata sudah orgasme duluan, aku makin cepat mengocoknya, tak kuhiraukan teriakan orgasme Febi, makin keras teriakannya makin membuatku bernafsu. Semenit kemudian aku menyusulnya ke puncak kenikmatan, kembali dia teriak keras ketika penisku berdenyut menyemprotkan sperma di vaginanya. Aku telah membasahi vagina dan rahim keponakanku dengan spermaku, dia menahanku ketika kucoba menarik keluar. "Tunggu, biarkan keluar sendiri" cegahnya, maka kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, kucium kening dan pipinya sebelum akhirnya kucium bibirnya. "Makasih Om, permainan yang indah, the best deh pokoknya" bisiknya menatapku tajam. Kuhindari tatapannya, tak sanggup aku melawan tatapan tajam keponakanku itu. Jarum jam masih menunjukkan pukul 17:30, entah sudah berapa lama aku melayani kedua gadis ini, gelapnya malam mulai menyelimuti Kota Semarang, para pedagang kaki lima di simpang lima sudah mulai menata dagangannya. Aku sempat tertidur sejenak diantara kedua gadis itu sebelum mereka membangunkanku untuk makan malam, jam 19:30. Kami memutuskan untuk makan di luar sambil shoping di Mall sebelah hotel. Ternyata mereka lebih senang shopping lebih dulu dari pada makan malam, padahal aku sudah lapar akibat bekerja terlalu keras, terpaksa aku memenuhi keinginan kedua gadis itu. Diluar dugaanku justru mereka memilih untuk belanja parfum, lingerie dan pakaian dalam, aku ikutan memilihkan untuk mereka, tentu saja yang kuanggap sexy, tak jarang aku diminta memberikan penilaian ketika mereka mencoba bra di ruang ganti, tentu dengan senang hati aku memenuhinya. Tak lupa kami membeli beberapa VCD porno di pinggiran jalan. Kami kembali ke hotel hampir pukul 22:00, kuminta mereka memakai apa yang baru mereka beli, sungguh sexy dan menggairahkan kedua bidadari itu mengenakan pakaian dalam yang serba mini pilihanku, hampir semuanya dicoba, tapi aku sudah tak tahan lagi melihat penampilan mereka. Saat mereka berganti lagi untuk ketiga kalinya, aku sudah tak sanggup menahan lebih lama lagi, terutama melihat tubuh sexy Febi, kutarik mereka ke ranjang dan kucumbui mereka bersamaan, kami saling bergulingan seperti anak kecil sedang bermain main. Mereka berebutan melepas pakaian dan celanaku, bahkan suit untuk menentukan siapa yang melepas celana dalamku. Bersama sama mereka mulai menjilati dan mengulum penisku, kedua lidah gadis itu secara bersamaan menyusuri penis dan kantong bola dengan gerakan berbeda, aku segera melayang tinggi didampingi kedua bidadari ini. "Om percaya nggak, Desi itu udah lama lho kagum sama Om, jadi ini sudah menjadi fantasinya" kata Febi disela kulumannya. "Ih kamu buka rahasia deh" Desi yang sedang menjilati pahaku mencubih Febi, mereka berdua tertawa sambil terus menjilatiku. Kedua tanganku meremas remas dua buah dada yang berbeda, baik kekenyalan maupun besarnya, punya Febi lebih besar tapi Desi lebih kenyal dan padat. Febi lebih cepat mengambil inisiatif, kakinya dilangkahkan ke tubuhku hingga posisi 69, Desi yang kalah cepat bergeser di antara kakiku, sambil menjilati Febi aku masih bisa merasakan kuluman dari dua mulut yang berbeda. Ketika Febi menegakkan tubuhnya melepaskan kulumannya pada penisku, Desi segera mengambil posisi untuk memasukkan penisku ke vaginanya, rupanya takut keduluan Febi dia tak mempedulikan lagi kondomnya seperti sebelumnya, kurasakan vaginanya yang rapat mencengkeram erat penisku, apalagi tanpa kondom, kurasakan makin kuat mencengkeram, hingga semua tertanam dia tak berani bergerak. "Om kalo keluar bilang ya" rupanya dia masih sedikit sadar Perlahan tubuhnya turun naik dan mulai menggoyangkan pinggul, penisku terasa diremas dengan hebat, gerakannya makin cepat dan tidak beraturan. Tak lebih lima menit dia turun dari tubuhku. "Feb, giliranmu, aku nggak udah tahan, bisa keluar duluan aku nanti, habis enak banget sih" katanya. Mereka bertukar posisi, sepeti sebelumnya penisku langsung masuk ke vagina Febi tanpa hambatan yang berarti, berbeda dengan Desi yang mendiamkan sesaat sebelum mengocok, tubuh Febi langsung turun naik dengan cepatnya, pinggangnya berputar putar sambil tangannya mengelus kantong bola. Aku tak bisa melihat ekspresi wajah Febi karena mukaku tertutup pantat Desi yang tepat berada di atasku dengan vagina terbuka lebar. Jerit dan desahan kedua gadis di atasku saling bersahutan merasakan kenikmatan yang berbeda. Tak lama kemudian Febi turun, Desi mengikutinya, kedua gadis itu lalu telentang bersebelahan dan membuka kakinya lebar lebar seakan mempersilahkan aku untuk memilihnya, aku bingung, kutatap mata keduanya, sama sama memberikan pandangan yang menggairahkan. Aku yakin Desi tidak bisa bertahan lama, maka kupilih Desi duluan supaya aku bisa menikmati Febi lebih lama dan memuntahkan spermaku ke vagina keponakanku itu. "Om janji ya kalo keluar di luar saja" katanya ketika aku mendekatinya. "Kalo aku nggak mau" godaku "Pleese" Desi memelas Tanpa menjawab lagi kusapukan penisku ke vaginanya dan mendorongnya masuk perlahan lahan. "Pelan pelan Om, ini pertama kali aku nggak pake kondom" katanya pelan ketika penisku mulai menerobos liang kenikmatannya. Kutelungkupkan tubuhku menindih tubuhnya setelah penisku masuk semuanya, pantatku mulai turun naik di atas tubuhnya, desah kenikmatan mengiringi kocokanku. Febi bergeser di belakangku, rupanya dia mengatur kaki Desi, diletakkannya menjepit pinggangku, penisku makin dalam mengisi liang kenikmatannya. Kukocok dia dengan cepat dan keras, kuhentakkan sedalam mungkin, tak kupedulikan desahan kenikmatannya, aku ingin segera membuatnya orgasme dan secepatnya beralih ke tubuh keponakanku yang sedang menunggu giliran. Diluar dugaanku, ternyata Desi tidak segera orgasme seperti perkiraanku, gerakannya malah semakin liar mencengkeramku, justru hampir saja aku keluar duluan kalau tidak segera kuhentikan gerakanku dan kucabut penisku dari vaginanya. Desi tersenyum penuh kemenangan melihat aku hampir kalah, kuambil napas dalam dalam lalu kutahan dan kuhembuskan pelan pelan. Febi sudah bersiap di sampingnya dengan posisi nungging, kuturunkan teganganku dengan menciumi pantat Febi, menjilati vagina dan anusnya, dia menggeliat geli, kukocok vaginanya dengan dua jariku, dia mendesis. Setelah kurasa aku siap maka langsung kumasukkan penisku ke liang Febi dengan sekali dorong disusul kocokan cepat, dia menjerit nikmat lepas. "Des, remas dadanya" perintahku sambil mengocoknya keras, Desi memandangku bingung, kuraih tangannya dan kuletakkan di dada Febi, kedua gadis itu kelihatan risih tapi aku tak peduli, kupaksa Desi meremasnya. Akhirnya Febi bisa menerima remasan Desi di buah dadanya, aku makin bergairah melihatnya, apalagi ketika Desi meremas kedua buah dada yang menggantung itu. Nafsuku makin meninggi ketika Febi membalas meremas buah dada Desi, mereka saling meremas buah dada. Aku terkejut ketika Febi mengambil inisiatif lebih jauh, tiba tiba dia menciumi buah dada Desi dan menjilati putingnya, mulanya Desi tertawa geli menerima hal itu, tapi kemudian dia ikutan mendesah dan meremas rambut Febi yang ada di dadanya. Aku makin bergairah dibuatnya, kocokanku makin cepat dan liar, seliar sedotan Febi pada buah dada sahabatnya. Desi menyusupkan tubuhnya di bawah Febi, kepalanya tepat di bawah bukit yang menggantung, mereka saling mengulum buah dada seperti permainan lesbi meski aku yakin mereka bukan golongan itu. Imajinasiku makin liar melihat kenakalan mereka, kuminta Desi nungging di atas Febi, tubuhnya menempel rapat di punggungnya, memeluk rapat dari belakang, vaginanya tepat di atas pantat Febi, masih tetap mengocok Febi kumasukkan dua jariku ke liang kenikmatannya, kedua gadis itu mendesah bersahutan. Kutarik keluar penisku dan segera beralih ke liang kenikmatan di atasnya, masih saja kurasakan rapatnya vagina Desi, nikmat yang berbeda dari dua vagina. Kocokanku berpindah dari satu vagina ke vagina lainnya. Aku tak tahu harus mengakhirinya di mana, hampir saja aku orgasme ketika tiba tiba kudengar bunyi HP-ku. Ingin kuabaikan tapi deringnya terasa mengganggu. "Terima dulu Om, siapa tahu penting, atau mungkin dari Mbak Lily" kata Febi ketika aku sedang mengocok vagina di atasnya. Terpaksa kutinggalkan kedua vagina yang sedang penuh gairah itu, benar saja istriku menelpon, aku menjauhi mereka, duduk di sofa supaya tidak terdengar suara napas mereka yang sedang ngos-ngosan. Kedua gadis itu menyusulku, Desi bersimpuh di antara kakiku sedangkan Febi duduk di sebelahku, menempelkan telinganya di HP, ikutan mendengar pembicaraanku dengan tantenya, sambil tangannya mengocok penisku bersamaan dengan lidah dan mulut Desi yang menari nari di penisku yang masih menegang. Handphone kuberikan ke Febi ketika istriku mau bicara padanya, akupun tak mau berlama lama bicara sama istriku dalam keadaan seperti ini, bisa bisa bicara sambil mendesah. "Ya Mbak, ini Om mau antar Febi pulang, udah malam, lagian besok kan kuliah.. agak siang sih, jam 11 pagi kuliahnya.. tapi Febi belum pamit sama ibu Kost, ntar dicari" Untungnya Febi mengikuti pembicaraan kami tadi hingga bisa langsung nyambung, kubalas Febi dengan mengulum putingnya ketika bicara sama tantenya, dia melototiku. "..oke deh Mbak, nanti Febi telpon ke kost deh" jawabnya mengakhiri pembicaraan. "Nakal ya, awas Febi balas" katanya lalu jongkok di sebelah sahabatnya, bersamaan mereka mengulum penisku, lidah kedua gadis itu menyusuri penisku kembali, aku mendesah sambil meremas rambut keduanya. Begitu nikmat permainan dua lidah, apalagi ketika bibir keponakanku mulai meluncur di batang kemaluanku, sementara sobatnya mempermainkan kantong bola dengan lidahnya, membawaku melayang tinggi dalam kenikmatan. Akhirnya aku menyerah dalam permainan dua mulut mereka, menyemprotlah spermaku ketika berada di mulut Desi, segera dia menarik keluar tapi terlambat, beberapa semprotan sudah membasahi tenggorokannya. Febi segera meraih penisku dan langsung memasukkan ke mulut mungilnya, semprotanku sempat mengenai wajah dan rambut Desi sebelum akhirnya habis dalam kuluman keponakanku, sedikit tetesan keluar dari celah bibirnya, dia menyedot habis semburan demi semburan hingga tetes terakhir tanpa mengeluarkan dari mulutnya. Kedua gadis itu lalu menyapukan penisku yang sudah lemas ke wajahnya. Malam itu kuhabiskan dengan mengarungi lautan kenikmatan bersama keponakanku dan sahabatnya, sepertinya mereka tak ada kata puas merengkuh kenikmatan demi kenikmatan, bergantian aku harus melayani mereka sampai kewalahan melayaninya, tapi dengan bantuan film VCD yang kami putar di Laptop, sedikit banyak aku bisa mengimbangi permintaan mereka. Entah jam berapa kami baru bisa tertidur, "terpaksa" aku pulang dengan pesawat terakhir ke Jakarta besoknya, "tak tega" meninggalkan keponakanku tercinta berikut sobat karibnya. Pesanku sebelum meninggalkannya di airport, jangan merusak rumah tangga orang, jangan merebut suami orang, dan yang paling penting, jangan sampai hamil. Suatu pesan yang tak layak disampaikan seorang paman kepada keponakannya, apa boleh buat, tak mungkin aku menyadarkan Febi dari kelakuannya kalau aku sendiri berperilaku sama, bahkan meniduri keponakanku. Tamat