cpx
Jumat, 13 Maret 2015
Akibat Ranjang Sempit
Mertuaku adalah seorang
janda dengan kulit yang putih,
cantik, lembut, dan berwajah
keibu ibuan, dia selalu
mengenakan kebaya jika keluar
rumah. Dan mengenakan daster
panjang bila didalam rumah,
dan rambutnya dikonde keatas
sehingga menampakkan kulit
lehernya yang putih jenjang.
Sebenarnya semenjak aku
masih pacaran dengan
anaknya, aku sudah jatuh
cinta padanya Aku sering
bercengkerama dengannya
walaupun aku tahu hari itu
pacarku kuliah. Diapun sangat
baik padaku, dan aku
diperlakukan sama dengan
anak anaknya yang lain.
Bahkan tidak jarang bila aku
kecapaian, dia memijat
punggungku.
Setelah aku kawin dengan
anaknya dan memboyong
istriku kerumah kontrakanku,
mertuaku rajin menengokku
dan tidak jarang pula menginap
satu atau dua malam. Karena
rumahku hanya mempunyai
satu kamar tidur, maka jika
mertuaku menginap, kami
terpaksa tidur bertiga dalam
satu ranjang. Biasanya Ibu
mertua tidur dekat tembok,
kemudian istri ditengah dan
aku dipinggir. Sambil tiduran
kami biasanya ngobrol sampai
tengah malam, dan tidak
jarang pula ketika ngobrol
tanganku bergerilya ketubuh
istriku dari bawah selimut, dan
istriku selalu mendiamkannya.
Bahkan pernah suatu kali
ketika kuperkirakan mertuaku
sudah tidur, kami diam diam
melakukan persetubuhan
dengan istriku membelakangiku
dengan posisi agak miring, kami
melakukankannya dengan
sangat hati hati dan suasana
tegang. Beberapa kali aku
tepaksa menghentikan
kocokanku karena takut
membangunkan mertuaku. Tapi
akhirnya kami dapat
mengakhirinya dengan baik aku
dan istriku terpuaskan
walaupun tanpa rintihan dan
desahan istriku.
Suatu malam meruaku kembali
menginap dirumahku, seperti
biasa jam 21.00 kami sudah
dikamar tidur bertiga, sambil
menonton TV yang kami taruh
didepan tempat tidur. Yang
tidak biasa adalah istriku minta
ia diposisi pinggir, dengan
alasan dia masih mondar
mandir kedapur. Sehingga
terpaksa aku menggeser ke
ditengah walaupun sebenarnya
aku risih, tetapi karena
mungkin telalu capai, aku
segera tidur terlebih dahulu.
Aku terjaga pukul 2.00 malam,
layar TV sudah mati. ditengah
samar samar lampu tidur
kulihat istriku tidur dengan
pulasnya membelakangiku,
sedangkan disebelah kiri
mertuaku mendengkur halus
membelakangiku pula. Hatiku
berdesir ketika kulihat leher
putih mulus mertuaku hanya
beberapa senti didepan bibirku,
makin lama tatapan mataku
mejelajahi tubuhnya, birahiku
merayap melihat wanita
berumur yang lembut tergolek
tanpa daya disebelahku..
Dengan berdebar debar
kugeser tubuhku kearahnya
sehingga lenganku menempel
pada punggungnya sedangkan
telapak tanganku menempel di
bokong, kudiamkan sejenak
sambil menunggu reaksinya.
Tidak ada reaksi, dengkur
halusnya masih teratur,
keberanikan diriku bertindak
lebih jauh, kuelus bokong yang
masih tertutup daster,
perlahan sekali, kurasakan
birahiku meningkat cepat.
Penisku mulai berdiri dan hati
hati kumiringkan tubuhku
menghadap mertuaku.
Kutarik daster dengan
perlahan lahan keatas sehingga
pahanya yang putih mulus
dapat kusentuh langsung
dengan telapak tanganku.
Tanganku mengelus perlahan
kulit yang mulus dan licin,
pahanya keatas lagi
pinggulnya, kemudian kembali
kepahanya lagi, kunikmati
sentuhan jariku inci demi inci,
bahkan aku sudah berani
meremas bokongnya yang
sudah agak kendor dan masih
terbungkus CD.
Tiba tiba aku dikejutkan oleh
gerakan mengedut pada
bokongnya sekali, dan pada
saat yang sama dengkurnya
berhenti.
Aku ketakutan, kutarik
tanganku, dan aku pura pura
tidur, kulirik mertuaku tidak
merubah posisi tidurnya dan
kelihatannya dia masih tidur.
Kulirik istriku, dia masih
membelakangiku, Penisku sudah
sangat tegang dan nafsu
birahiku sudah tinggi sekali,
dan itu mengurangi akal
sehatku dan pada saat yang
sama meningkatkan
keberanianku.
Setelah satu menit berlalu
situasi kembali normal,
kuangkat sarungku sehingga
burungku yang berdiri tegak
dan mengkilat menjadi bebas,
kurapatkan tubuh bagian
bawahku kebokong mertuaku
sehingga ujung penisku
menempel pada pangkal
pahanya yang tertutup CD.
Kenikmatan mulai menjalar
dalam penisku, aku makin
berani, kuselipkan ujung
penisku di jepitan pangkal
pahanya sambil kudorong
sedikit sedikit, sehingga kepala
penisku kini terjepit penuh
dipangkal pahanya, rasa
penisku enak sekali, apalagi
ketika mertuaku mengeser
kakinya sedikit, entah
disengaja entah tidak.
Tanpa meninggalkan
kewaspadaan mengamati gerak
gerik istri, kurangkul tubuh
mertuaku dan kuselipkan
tanganku untuk meremas buah
dadanya dari luar daster
tanpa BH. Cukup lama aku
melakukan remasan remasan
lembut dan menggesekan
gesekkan penisku dijepitan
paha belakangnya. Aku tidak
tahu pasti apakah mertuaku
masih terlelap tidur atau tidak
tapi yang pasti kurasakan
puting dibalik dasternya terasa
mengeras. Dan kini kusadari
bahwa dengkur halus dari
mertuaku sudah hilang.., kalau
begitu..pasti ibuku mertuaku
sudah terjaga..? Kenapa diam
saja? kenapa dia tidak
memukul atau menendangku,
atau dia kasihan kepadaku?
atau dia menikmati..? Oh.. aku
makin terangsang.
Tak puas dengan buah
dadanya, tanganku mulai
pindah keperutnya dan turun
keselangkangannya, tetapi
posisinya yang menyebabkan
tangan kananku tak bisa
menjangkau daerah sensitifnya.
Tiba tiba ia bergerak,
tangannya memegang
tanganku, kembali aku pura
pura tidur tanpa merrubah
posisiku sambil berdebar debar
menanti reaksinya. Dari sudut
mataku kulihat dia menoleh
kepadaku, diangkatnya
tanganku dengan lembut dan
disingkirkannya dari tubuhnya,
dan ketika itupun dia sudah
mengetahui bahwa dasternya
sudah tersingkap sementara
ujung penisku yang sudah
mengeras terjepit diantara
pahanya.
Jantungku rasanya berhenti
menunggu reaksinya lebih jauh.
Dia melihatku sekali lagi,
terlihat samar samar tidak
tampak kemarahan dalam
wajahnya, dan ini sangat
melegakanku .
Dan yang lebih mengejutkanku
adalah dia tidak menggeser
bokongnya menjauhi tubuhku,
tidak menyingkirkan penisku
dari jepitan pahanya dan
apalagi membetulkan
dasternya. Dia kembali
memunggungiku meneruskan
tidurnya, aku makin yakin
bahwa sebelumnya mertuaku
menikmati remasanku di
payudaranya, hal ini
menyebabkan aku berani untuk
mengulang perbuatanku untuk
memeluk dan meremas buah
dadanya. Tidak ada penolakan
ketika tanganku menyelusup
dan memutar mutar secara
lembut langsung keputing
teteknya melalui kancing depan
dasternya yang telah kulepas.
Walaupun mertuaku berpura
pura tidur dan bersikap pasif,
tapi aku dengar nafasnya
sudah memburu.
Cukup lama kumainkan susunya
sambil kusodokkan kemaluanku
diantara jepitan pahanya pelan
pelan, namun karena pahanya
kering, aku tidak mendapat
kenikmatan yang memadai,
Kuangkat pelan pelan pahanya
dengan tanganku, agar aku
penisku terjepit dalam pahanya
dengan lebih sempurna, namun
dia justru membalikkan
badannya menjadi terlentang,
sehingga tangannya yang
berada disebelah tangannya
hampir menyetuh penisku,
bersamaan dengan itu tangan
kirinya mencari selimutnya
menutupi tubuhnya. Kutengok
istri yang berada dibelakangku,
dia terlihat masih nyenyak
tidurnya dan tidak menyadari
bahwa sesuatu sedang terjadi
diranjangnya.
Kusingkap dasternya yang
berada dibawah selimut, dan
tanganku merayap kebawah
CDnya. Dan kurasakan
vaginanya yang hangat dan
berbulu halus itu sudah basah.
Jari tanganku mulai mengelus,
mengocok dan meremas
kemaluan mertuaku. Nafasnya
makin memburu sementara dia
terlihat berusaha untuk
menahan gerakan pinggulnya,
yang kadang kadang
terangkat, kadang mengeser
kekiri kanan sedikit. Kunikmati
wajahnya yang tegang sambil
sekali kali menggigit bibirnya.
Hampir saja aku tak bisa
menahan nafsu untuk mencium
bibirnya, tapi aku segera sadar
bahwa itu akan menimbulkan
gerakan yang dapat
membangunkan istriku.
Setelah beberapa saat tangan
kanannya masih pasif, maka
kubimbing tangannya untuk
mengelus elus penisku,
walaupun agak alot akhirnya
dia mau mengelus penisku,
meremas bahkan mengocoknya.
Agak lama kami saling
meremas, mengelus, mengocok
dan makin lama cepat, sampai
kurasakan dia sudah mendekati
puncaknya, mertuakan
membuka matanya,
dipandanginya wajahku erat
erat, kerut dahinya menegang
dan beberapa detik kemudian
dia menghentakkan kepalanya
menengadah kebelakang.
Tangan kirinya mencengkeram
dan menekan tanganku yang
sedang mengocok lobang
kemaluannya. Kurasakan
semprotan cairan di pangkal
telapak tanganku. Mertuaku
mencapai puncak kenikmatan,
dia telah orgasme. Dan pada
waktu hampir yang bersamaan
air maniku menyemprot
kepahanya dan membasahi
telapak tangannya. Kenikmatan
yang luar biasa kudapatkan
malam ini, kejadianya begitu
saja terjadi tanpa rencana
bahkan sebelumnya
membayangkanpun aku tidak
berani.
Sejak kejadian itu, sudah
sebulan lebih mertuaku tidak
pernah menginap dirumahku,
walaupun komunikasi dengan
istriku masih lancar melalui
telpon. Istriku tidak curiga apa
apa tetapi aku sendiri merasa
rindu, aku terobsesi untuk
melakukannya lebih jauh lagi.
Kucoba beberapa kali
kutelepon, tetapi selalu tidak
mau menerima. Akhirnya
setelah kupertimbangkan maka
kuputuskan aku harus
menemuinya.
Hari itu aku sengaja masuk
kantor separo hari, dan aku
berniat menemuinya
dirumahnya, sesampai
dirumahnya kulihat tokonya
sepi pengunjung, hanya dua
orang penjaga tokonya terlihar
asik sedang ngobrol. Tokonya
terletak beberapa meter dari
rumah induk yang cukup besar
dan luas. Aku langsung masuk
kerumah mertuaku setelah
basa basi dengan penjaga
tokonya yang kukenal dengan
baik. Aku disambut dengan
ramah oleh mertuaku, seolah
olah tidak pernah terjadi
sesuatu apa apa, antara kami
berdua, padahal sikapku
sangat kikuk dan salah
tingkah.
"Tumben tumbenan mampir
kesini pada jam kantor?"
"Ya Bu, soalnya Ibu nggak
pernah kesana lagi sih"
Mertuaku hanya tertawa
mendengarkan jawabanku
"Ton. Ibu takut ah.. wong kamu
kalau tidur tangannya kemana
mana.., Untung istrimu nggak
lihat, kalau dia lihat.. wah.. bisa
berabe semua nantinya.."
"Kalau nggak ada Sri gimana
Bu..?" tanyaku lebih berani.
"Ah kamu ada ada saja,
Memangnya Sri masih kurang
ngasinya, koq masih minta
nambah sama ibunya."
"Soalnya ibunya sama
cantiknya dengan anaknya"
gombalku.
"Sudahlah, kamu makan saja
dulu nanti kalau mau istirahat,
kamar depan bisa dipakai,
kebetulan tadi masak pepes"
selesai berkata ibuku masuk ke
kamarnya.
Aku bimbang, makan dulu atau
menyusul mertua kekamar.
Ternyata nafsuku mengalahkan
rasa lapar, aku langsung
menyusul masuk kekamar,
tetapi bukan dikamar depan
seperti perintahnya melainkan
kekamar tidur mertuaku. Pelan
pelan kubuka pintu kamarnya
yang tidak terkunci, kulihat dia
baru saja merebahkan
badannya dikasur, dan
matanya menatapku, tidak
mengundangku tapi juga tidak
ada penolakan dari
tatapannya. Aku segera naik
keranjang dan perlahan lahan
kupeluk tubuhnya yang
gemulai, dan kutempelkan
bibirku penuh kelembutan.
Mertuaku menatapku sejenak
sebelum akhirnya memejamkan
matanya menikmati ciuman
lembutku. Kami berciuman
cukup lama, dan saling meraba
dan dalam sekejap kami sudah
tidak berpakaian, dan nafas
kami saling memburu. Sejauh ini
mertuaku hanya mengelus
punggung dan kepalaku saja,
sementara tanganku sudah
mengelus paha bagian dalam.
Ketika jariku mulai menyentuh
vaginanya yang tipis dan
berbulu halus, dia sengaja
membuka pahanya lebar lebar,
hanya sebentar jariku meraba
kemaluanya yang sudah sangat
basah itu, segera kulepas
ciumanku dan kuarahkan
mulutku ke vagina merona
basah itu.
Pada awalnya dia menolak dan
menutup pahanya erat erat.
"Emoh.. Ah nganggo tangan
wae, saru ah.. risih.." namun
aku tak menghiraukan kata
katanya dan aku setengah
memaksa, akhirnya dia
mengalah dan membiarkan aku
menikmati sajian yang sangat
mempesona itu, kadang kadang
kujilati klitorisnya, kadang
kusedot sedot, bahkan kujepit
itil mertuaku dengan bibirku
lalu kutarik tarik keluar.
"Terus nak Ton.., Enak banget..
oh.. Ibu wis suwe ora
ngrasakke penak koyo ngene
sstt"
Mertuaku sudah merintih rintih
dengan suara halus, sementara
sambil membuka lebar pahanya,
pinggulnya sering diangkat dan
diputar putar halus. Tangan
kiriku yang meremas remas
buah dadanya, kini jariku
sudah masuk kedalam mulutnya
untuk disedot sedot.
Ketika kulihat mertuaku sudah
mendekati klimax, maka
kuhentikan jilatanku
dimemeknya, kusodorkan
kontolku kemulutnya, tapi dia
membuang muka kekiri dan
kekanan, mati matian tidak
mau mengisap penisku. Dan
akupun tidak mau memaksakan
kehendak, kembali kucium
bibirnya, kutindih tubuhnya dan
kudekap erat erat, kubuka
leber lebar pahanya dan
kuarahkan ujung penisku yang
mengkilat dibibr vaginanya.
Mertuaku sudah tanpa daya
dalam pelukanku, kumainkan
penisku dibibir kemaluannya
yang sudah basah, kumasukkan
kepala penis, kukocok kocok
sedikt, kemudian kutarik lagi
beberapa kali kulakukan.
"Enak Bu?"
"He eh, dikocok koyo ngono
tempikku keri, wis cukup Ton,
manukmu blesekno sin jero.."
"Sekedap malih Bu, taksih eco
ngaten, keri sekedik sekedik"
"Wis wis, aku wis ora tahan
meneh, blesekno sih jero
meneh Ton oohh.. ssttss.. Ibu
wis ora tahan meneh, aduh
enak banget tempikku" sambil
berkata begitu diangkatnya
tinggi tinggi bokongnya,
bersamaan dengan itu
kumasukkan kontolku makin
kedalam memeknya sampai
kepangkalnya, kutekan
kontolku dalam dalam,
sementara Ibu mertuaku
berusaha memutar mutar
pinggulnya, kukocokkan penisku
dengan irama yang tetap,
sementara tubuhnya rapat
kudekap, bibirku menempel
dipipinya, kadang kujilat
lehernya, ekspresi wajahnya
berganti ganti. Rupanya Ibu
anak sama saja, jika sedang
menikmati sex mulutnya tidak
bisa diam, dari kata jorok
sampai rintihan bahkan
mendekati tangisan.
Ketika rintihannya mulai
mengeras dan wajahnya sudah
diangkat keatas aku segera
tahu bahwa mertua akan
segera orgasme, kukocok
kontolku makin cepat.
"Ton..aduh aduh.. Tempikku
senut senut, ssttss.. Heeh
kontolmu gede, enak banget..
Ton aku meh metu.. oohh.. Aku
wis metu..oohh."
Mertuaku menjerit cukup keras
dan bersamaan dengan itu aku
merasakan semprotan cairan
dalam vaginanya. Tubuhnya
lemas dalam dekapanku,
kubiarkan beberapa menit
untuk menikmati sisa sisa
orgasmenya sementara aku
sendiri dalam posisi nanggung.
Kucabut penisku yang basah
kuyup oleh lendirnya
memekknya, dan kusodorkan
ke mulutnya, tapi dia tetap
menolak namun dia menggegam
penisku untuk dikocok didepan
wajahnya. Ketika kocokkannya
makin cepat, aku tidak tahan
lagi dan muncratlah lahar
maniku kewajahnya.
Siang itu aku sangat puas
demikian juga mertuaku,
bahkan sebelum pulang aku
sempat melakukannya lagi,
ronde kedua ini mertuaku bisa
mengimbangi permainanku, dan
kami bermain cukup lama dan
kami bisa sampai mencapai
orgasme pada saat yang sama.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar