dibuat untuk membantu stamina kita. Aku ikut membuatnya loh, jadi aku tahu cara bikinnya nanti-nanti," jelas Rina.
"Wah makin gak sabar nih Na," Bima mulai gelisah karena hanya dengan mendengar ceritanya saja ia sudah terangsang.
"Yuk kita coba Mas. Aku salin dulu ya. Kamu sabar," ujar Rina meninggalkan Bima menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Rina hanya membebatkan tubuhnya dengan kain saja. Ia tak ubahnya perempuan desa yang ingin mandi di sungai. Kainnya menutupi pangkal payudara hingga bagian atas pahanya. Bima yang terbaring terlentang terpesona dengan pemandangan itu. Rina tak ubahnya perempuan desa yang sederhana, cantik, dan seksi.
Rina mengambil sebuah tembikar seperti tungku kecil. Di bagian atas tembikar itu ada wadah untuk menampung cairan, sedangkan di bawahnya ada tempat untuk menaruh lilin. Saat lilin dinyalakan, maka akan memanaskan minyak di atasnya, dan tak lama kemudian tercium bau wangi.
"Itu apa sayang?" Tanya Bima.
"Ini sejenis minyak aroma. Kata Bu Wayan ada warga di sini yang khusus membuatnya. Wanginya bikin kita rileks, sekaligus bikin serangga pergi. Orang di sini biasa memakai untuk semadi, berdiam diri, atau yoga. Aku disarankan untuk membakar ini kalau mau tidur atau mau berhubungan sama kamu. Biar rileks," ujar Rina.
"Ooooo."
Rina kemudian menghampiri suaminya yang sudah terlentang di atas kasur. Sekilas ia melihat tonjolan di bagian depan celana dalam Bima. Rina pun menggoda dengan mengelus tonjolan itu. "Belum apa-apa, bim-bim dah bangun," godanya.
Ia kemudian coba mempraktekkan anjuran Bu Wayan. Pertama-tama ia mengecup bibir Bima dengan lembut. Kecupan itu untuk mewakili rasa sayang pada pasangan. "Semua perlakuan kita harus disertai rasa di dalam hati. Meski di dalam hati, pasangan kita pasti bisa merasakannya. Jangan biarkan perasaan kita kosong ketika kita melakukan satu tindakan, itu malah akan membuat pasangan kita hanya merasakan rasa dirinya sendiri. Jika hal itu terus terjadi, maka yang ada hubungan seks menjadi hambar. Itulah pentingnya rasa, karena akan menguatkan batin pasangan. Dan itu kenapa hubungan seks sering disebut sebagai nafkah batin," Rina teringat pesan Bu Wayan.
Itu kenapa kecupan lembut Rina mendapat sambutan hangat dari Bima. Bima membalas dengan lembut dan penuh kemesraaan. Dan selanjutnya, kemesraan itulah yang memancing rangsangan untuk meningkat lagi. Rina pun mengecup lebih keras, dan menyentuhkan lidahnya. Hingga mereka berpagutan.
"Biarkan saja birahimu keluar. Jangan dibatasi. Birahi adalah salah satu bentuk rasa. Tapi rasa harus dilandasi oleh cinta. Kamu sudah punya cinta, itu awal yang sangat bagus," penjelasan Bu Wayan masih terngiang dalam ingatan Rina.
Rina kini menggunakan lidahnya untuk meraba seluruh wajah Bima. Namun perlahan lidahnya turun ke leher dan berhenti di dada. Di sana Rina berusaha memancing Bima dengan jilatan-jilatan kecil di bagian putingnya. "Puaskan birahimu di tempat yang kamu sukai. Biarkan dia mengetahuinya, karena dia akan merasa senang dengan apa yang dia miliki. Beri kesempatan kepada pasanganmu untuk memiliki kehebatannya, setiap orang senang memuji dirinya sendiri."
Jilatan di puting Bima memang tidak memberikan rangsangan berarti, selain rasa geli. Namun itu memberikan efek lain, Bima merasa apa yang dilakukan isterinya memiliki sensasi tersendiri. Baru kali ini ada perempuan yang berusaha menyenangkan dirinya hingga harus melakukan itu.
Tapi itu belum seberapa, jika Bima tahu apa yang akan dilakukan Rina selanjutnya. Puas menjilati dada suaminya, Rina mengarahkan lidahnya terus ke bawah. Saat tiba di pusar, lidah Rina memutar lubangnya. Tak hanya itu, tangannya mulai mengelus-elus penis Bima yang masih bersembunyi di balik celana dalam. Penis Bima yang mengeras mendapat belaian mesra.
"Buka ya Mas?"
"Iya Na," ujar Bima cepat.
Rina langsung melucuti satu-satunya pakaian suaminya yang masih tersisa. Rina sempat kaget ketika melihat penis suaminya yang sudah membesar dan mengacung ke atas. Ia bahkan sempat menutup mulutnya.
"Kenapa sayang?" Bima menyadarkan Rina.
"Besar sih Mas. Aku pernah lihat di film porno, ternyata memang aslinya seperti ini ya," ujar Rina takjub.
Sesaat ia lupa apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Rina memperhatikan penis suaminya. Ia melihat bentuknya, kulitnya yang berurat, serta rambut-rambut di sekitarnya. Rina juga memperhatikan buah zakarnya yang mengelantung di bawah.
"Kamu ngapain sayang?" Bima penasaran.
"Sebentar sayang. Aku lagi ngeliatin punya kamu. Bentuknya begini ya. Kalo aku pegang begini sakit gak?" Tanya Rina.
"Hhhmmmm...gak sakit. Malah enak," ujar Bima polos.
Rina kembali memperhatikan bentuk penis suaminya. Namun Bima meminta dirinya agar menyentuh penisnya lagi. "Sayang diusap lagi dong," ujarnya.
Kali ini Rina tak mengusapnya, tapi menjilati penis Bima. Dari ujungnya hingga ke pangkal bawahnya. "Aaahhhh.... Kamu ngapain sayang.." Bima merasakan sensasi yang luar biasa saat Rina menjilati penisnya. Ternyata masih masih ada yang lebih luar biasa, gumam Bima.
Rina puas menjilati penis Bima hingga penis yang kecoklatan itu penuh dengan air liurnya. Ia pun melangkah ke tahap berikutnya, memasukan penis Bima ke dalam mulutnya. "Ooooohhhhh....sayang..." Lenguh Bima yang merasa dirinya terbang ke awan.
Rina benar-benar mengikuti petunjuk Bu Wayan. "Lepaskan semua yang membelenggu, ini adalah cinta bukan sekadar birahi. Seks adalah wujud cinta. Jangan terpaku pada nama dan nilai. Ini adalah soal rasa dan perasaan. Bimbing suamimu memiliki cinta seperti cinta yang kamu miliki." Wejangan itu yang mendorong Rina berani mengulum penis suaminya. Selama ini ia tidak pernah membayangkannya. Jangankan mengulum dan memegang, melihatnya dengan seksama saja baru sekali. Rina melepaskan kesan jijik dan takut. Ia malah ketagihan melumat penis suaminya. Seakan-akan ia sedang makan es krim yang tak pernah habis.
Bima melenguh semakin kencang. Ia tak percaya mulut isterinya sedang mengoral penisnya. Sensasinya luar biasa. Rangsangan itu membuat Bima seperti tak kuasa dengan birahinya. Setiap kali bibir Rina turun naik mengurut penisnya, Bima merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Sejenak Rina menghentikan aksinya. Ia ingin melihat hasil kerjanya. "Enak Mas?" Tanyanya.
"Banget. Ini pelajaran dari Bu Wayan juga?" Tanya Bima.
"Iya. Mau lagi Mas?"
"Untuk sekarang cukup dulu sayang. Sekarang gantian, aku mau manjain kamu," ujar Bima.
Bima pun bangkit. Memeluk tubuh isterinya sambil duduk. Mereka berpagutan. "Kamu tahu gak sayang, kalau kamu cantik sekali. Kamu bidadariku," ujar Bima saat melepas pagutannya. "Sekarang ajari aku, apa yang harus aku lakukan," tambah Bima.
"Coba Mas lakuin seperti yang aku lakukan tadi," pinta Rina sambil melepas kainnya.
Saat kain Rina terlepas, tubuhnya tidak tertutup apapun. Bima kembali terpesona, apalagi Rina kemudian rebah terlentang. Bima sangat memuji tubuh isterinya. Kulitnya yang putih dan halus, lekuk luarnya yang aduhai, serta payudaranya yang proporsional. Bima mengagumi payudara Rina yang masih kenceng. Namun yang paling dikagumi dan dihormatinya adalah wilayah sekitar vagina Rina. Sejak 'pagi pertama' di Yogya kemarin, Bima sangat menghormati bagian tubuh itu. Sebenarnya bagi Bima bukan soal perawan atau tidak perawan, tapi hal itu adalah bukti keteguhan Rina mempertahankan nilai yang dianggapnya benar. Dan itu bukanlah sebuah hal yang mudah di zaman seperti ini.
Bima memposisikan tubuhnya di atas Rina. Ia mulai mencium bibir Rina dengan lembut, sama seperti yang dilakukan kepadanya. Ia pun meneruskannya dengan mengusap wajah Rina menggunakan lidahnya. Hampir seluruh wajah Rina tak lepas dari usapan lidahnya. "Aaahhh..." Rina melenguh ketika lidah Bima menyentuh telinga kirinya. Lenguhan itu menjadi petunjuk untuk mengintensifkan jilatan lidahnya di tempat itu. Rina kembali melenguh. Bima berimprovisasi dengan memberikan gigitan-gigitan kecil. Rina kegelian, tapi ia meremas kepala Bima. Puas dengan telinga kiri, Bima berpindah ke kanan. Hal yang sama pun terulang lagi.
Kini lidah Bima beranjak ke bawah. Ia menelusuri leher Rina yang jenjang. Rina melenguh lagi. Ingin rasanya ia menandai leher itu dengan cupangan, namun Bima ragu melakukannya. Ia mengganti keinginannya itu dengan mengaktifkan tangannya. Tangan Bima mulai meraba payudara kanan Rina. Bima menggunakan jarinya untuk menyentuh payudara Rina. Ia tahu bahwa bagian itu adalah salah satu bagian sensitif perempuan, maka ia tak mau terburu-buru dan coba memancing Rina.
Sambil menjilati lehernya, jari Bima melingkari payudara Rina. Jarinya mengikuti lingkar luar payudara Rina yang menantang. "Aaaahhhh... Mass..." Lenguh Rina. Tangan Rina pun mengusap rambut Bima.
Rabaan tangan Bima membuat gairah Rina terpancing. Rina kini memegang tangan Bima untuk menyentuh payudaranya lebih intensif lagi. Rina ingin tangan Bima yang lebar meraup payudaranya. Bima tak kuasa menolak itu, karena ia memang menginginkannya juga.
"Aaaahhhhh...Mass....," lenguh Rina saat tangan suaminya meraup payudaranya. Putingnya yang menonjol tertekan saat Bima meremasnya. Berkali-kali Bima meremas payudara Rina, kiri dan kanan berulang-ulang. Ia bahkan melepaskan lidahnya dari lehernya, dan menggunakan kedua tangannya untuk mengerjai payudara Rina, kiri dan kanan secara bersamaan. Hasilnya, leguhan yang tiada henti. "Ooohhhh...oohhh...ooohhhh.."
Bima puas melihat isterinya mendapatkan kenikmatan. Wajah Rina menggeleng ke kiri dan kanan. Matanya terpenjam menikmati kenikmatan itu. Namun Bima merasa belum maksimal, ia mengganti tangannya dengan lidahnya.
Kini rangsangan muncul lewat sapuan lidah Bima. Lidahnya juga menyapu dari pinggir luar ke bagian tengah. Perlahan namun pasti lidahnya mendaki bukit isterinya. Saat akan mencapai puncak bukit, Bima coba mengitari lingkaran hitam di sekitar putingnya. "Aaaaaahhhhh....Maaassss..."
Rintihan yang keras itu membuat Bima menjilat puting Rina. Rina terkejut dengan pelakuan itu, badannya melengkung. Bima menambah serangannya lagi, ia menghisap puting isterinya. "Ooooohhhhh...Mas Bimaku....enak Mas, terus dihisap Mas," Rina mulai berani meminta.
Puas dengan puting kiri, Bima pindah ke kanan. Ia tak peduli jika Rina sudah merintih keenakan. Ia juga mengabaikan meski badan isterinnya sampai melengkung ke atas menahan kenikmatan. "Maaasssss....aku gak kuat Massss...."
Rina merasa tak bisa menahan kenikmatannya. Tapi sebenarnya itu belum seberapa, karena Bima masih memiliki jurus yang lainnya lagi. Lidah Bima kini menuju daerah paling vital Rina, vaginanya.
Perlahan-lahan lidah Bima turun ke bawah. Sambil menyusuri perut, tangan Bima mulai meraba labia mayora Rina. Terasa di tangannya rambut-rambut halus yang tumbuh di wilayah itu.
Bima sangat kagum dengan wilayah selangkangan Rina. Rambut-rambut di sekitarnya tertata rapi secara alami, membuat kesan seksi. Vaginanya sudah merekah, karena Bima membuka tungkai pahanya.
Lidah Bima mulai membelai bagian luar vagina isterinya. Rina pun melenguh. Sambil membelai, Bima mengamati dengan seksama kelamin isterinya. Itulah pertama kali ia melihat dengan jelas kelamin perempuan. Ia memperhatikan dengan detail, bentuknya, tekstur, warna, dan lainnya. Ia seperti sedang belajar biologi.
Tangan Bima membuka celah vagina dan menemukan satu bagian yang ia duga clitoris. Di celah bagian atas, ada tonjolan daging kecil yang dilingkari kulit dengan tekstur lebih halus. Tekstur itu terlihat licin karena dipenuhi lendir.
Bima tak mau langsung menyerang clitoris isterinya karena kata orang, itulah bagian paling sensitif selain dinding vagina. Bima coba memberi rangsangan di sekitar clitoris, di kulit melingkar yang teksturnya licin penuh cairan. Ia pun menyapu cairan itu dengan lidahnya.
"Mmmaaaasssss....Bima..." Rina meringis menahan kenikmatan padahal Bima baru menyentuh pinggirnya saja. Berkali-kali Bima melakukan itu, terasa asin di lidahnya. Rasa itu malah menimbulkan sensasi tersendiri. Maklum ini adalah pengalaman pertamanya.
Rina terus melenguh dan merintih. Ketika lidah Bima benar-benar menyentuh clitorisnya Rina tak bisa menahan suaranya, ia setengah teriak. Rina mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, sedangkan tangannya menekan kepala Bima agar terus menekan clitorisnya.
Bima mulai menghisap dan memberikan gigitan-gigitan kecil pada tonjolan itu. Rina semakin meracau. Pinggulnya terangkat-angkat, wajahnya menggeleng ke sana kemari. Nama Bima pun disebut berkali-kali. "Mas Mas, aku gak kuat Mas.. Mass... ooohhh.... maassss... Maaassss Bima sayang... ooohhhh..." Rina memang sudah tidak bisa mengontrol dirinya. Kenikmatannya semakin dekat. "Mmaaasss... Terus masss... Hisap Maassss...aku mau pipis maassss..."
Namun bukan pipis yang terjadi, badan Rina mengejang beberapa kali, pinggulnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya terpejam, sedangkan mulutnya berteriak, "aaaaaahhhhhhh......." Rina mencapai puncaknya.
Bima menghentikan aksinya. Ia kaget apa yang sudah terjadi pada isterinya. Ia takut kalau ia memberikan kesakitan lagi pada isterinya. Ia takut kalau ia ternyata menyentuh bagian yang lecet dari vagina Rina.
Apakah begitu sakitnya hingga pinggul Rina terangkat ke atas? Apakah sakit sekali hingga membuat Rina terlihat seperti orang yang kehabisan napas? Pikiran itu terbersit di kepala Bima.
Bima merasa bersalah. Ia memutuskan menghentikan aksinya dan mencium isterinya yang perlahan mulai tenang.
"Sayang kamu kenapa? Sakit ya? Maaf ya?" Ujar Bima.
Rina masih menikmati orgasmenya. Ia hanya menatap sayu kepada Bima. Namun ia tidak tega melihat wajah Bima yang merasa bersalah. "Nggak sayang, nggak sakit. Malah enak banget, mungkin itu orgasme, seperti kata Bu Wayan," Rina berkata dan mencium Bima.
"Ooo orgasme, kaya tadi itu ya. Seksi banget sih," ujar Bima.
"He he he, makasih ya Mas Bimaku," balas Rina.
Sejenak mereka berdiam, diri. Rina teringat kata-kata Bu Wayan, perempuan kadang kala bisa langsung menikmati orgasme lagi jika mendapat rangsangan yang tepat. Maka ia ingin mencoba mendapatkan orgasme lewat penetrasi.
"Bim-bimmu masih tegang Mas?" Tanya Rina.
"Masih."
"Masukin aja Mas. Aku pengen bim-bimmu," ujar Rina memelas.
"Kamu yakin? Nanti sakit lagi," Bima ragu-ragu.
"Pelan-pelan aja Mas."
Bima pun kembali menuju vagina Rina. Kali ini ia bersiap-siap untuk melakukan penetrasi. Kedua kaki Rina dikangkangkan, dan memegang penisnya ke lobang vagina isterinya. Berbeda dengan yang pertama kali kemarin, kali ini Bima sudah tahu di mana letak lubang vagina Rina.
Bima benar-benar menghayati momen ini. Sejak awal ia memang ingin mempertemukan bim-bimnya dengan rin-rin isterinya. Ia sempat ragu kalau isterinya akan mendapat kesakitan lagi, dan ia juga sudah merasa puas ketika isterinya ternyata mendapatkan kenikmatan lewat sentuhan lidahnya.
Bima mengarahkan penisnya dengan satu tangan, sedangkan tangan lain menjadi tumpuan tubuhnya. Ia melihat Rina sudah pasrah menerima penisnya. Perlahan-lahan Bima menurunkan panggulnya dan penisnya mulai menerobos vagina Rina.
Berbeda dengan kemarin, kali ini lebih mudah. Vagina Rina lebih licin. Ia pun seakan tanpa halangan menuju dasar vagina Rina. "Aaaaahhhh...." Rina melenguh sambil menggoyang pinggulnya sedikit. Ia memperbaiki posisi vaginanya agar penis suaminya terasa pas menyentuh dinding vaginanya. "Aaauuu... Pelan-pelan Mas..." Ketika Bima menekan sekali lagi.
Bima menekannya dengan penuh perasaan. Ia ingin memberikan cinta lewat tekanan penisnya. Dan sekali tekanan lagi penis Bima sudah mencapai dasar vagina Rina, tenggelam dalam remasan dinding vagina isterinya.
Sesaat, Bima sangat menikmati momen itu. Ia merebahkan tubuhnya, berusaha mencium bibir Rina. Oooo indah sekali ketika penis sudah masuk ke dalam vagina, sedangkan bibirnya memberikan ciuman penuh cinta kepada isterinya. "Rina sayang, aku cinta kamu," ujarnya ketika bibirnya lepas dari pagutan isterinya.
"Aku juga Mas Bimaku sayang. Jangan tinggalkan aku, kita akan bersama-sama sampai tua, sampai punya cucu Mas...,"balas Rina.
"Iya sayang," Bima mengecup kening isterinya. Rina pun membalasnya dengan memeluk punggung suaminya. Pasangan itu benar-benar mabuk cinta, cinta yang tulus, yang menerima satu sama lain, dan membiarkan yang lain menguasai dirinya. Mereka saling memberi dan saling menerima secara bersamaan. Bima dan Rina sama-sama bisa merasakan itu.
Pelukan di punggung Bima menjadi rabaan lembut dari Rina. Bima belajar kalau hal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar